Sabtu, 26 Oktober 2019

MALARIA DALAM SIRKULASI DARAH


KELOMPOK 9
Muhammad Yusuf Anshori
Nadiyah Laila Rahma
Widya Nurfadilah

KELAINAN DARAH

Darah mengandung zat cair dan zat padat. Bagian yang bersifat cair disebut plasma darah. Lebih dari setengah bagian darah merupakan plasma darah. Sedangkan bagian yang bersifat padat merupakan sel-sel darah yang terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit).
Sel darah memiliki fungsi yang berbeda-beda. Berikut adalah penjelasannya:

a. Sel darah merah berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan tubuh
b. Sel darah putih berfungsi melawan infeksi
c. Trombosit berfungsi membantu proses penggumpalan darah
d. Plasma darah berfungsi memproduksi antibodi di dalam tubuh

Gejala Kelainan Darah
Gejala yang muncul akibat terjadinya penyakit kelainan darah berbeda-beda, tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa gejala tersebut adalah:

Mudah mengalami memar
Mimisan
Gusi berdarah
Cepat lelah
Demam berulang
Sakit kepala
Diare
Nyeri dada
Jantung berdebar
Sesak napas

Kapan harus ke dokter? 
Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika merasakan gejala kelainan darah. Beberapa kelainan darah terjadi secara berkepanjangan dan dapat kambuh kembali. Pemeriksaan rutin ke dokter perlu dilakukan guna mencegah kondisi tersebut kambuh kembali atau mencegah terjadinya komplikasi.
Jika muncul komplikasi atau gejala yang lebih serius, seperti munculnya gejala perdarahan yang tidak bisa berhenti, sesak napas, atau nyeri dada, segera pergi ke IGD rumah sakit untuk mendapat penanganan medis secepatnya.

Penyebab Kelainan Darah
Penyakit kelainan darah terdiri dari beberapa jenis, tergantung bagian darah yang terganggu dan penyebab yang mendasarinya. Salah satu penyakit kelainan  darah ini adalah Malaria.


MALARIA



Sumber foto:
 https://beritagar.id/artikel-amp/sains-tekno/5-fakta-tentang-malaria-yang-perlu-diketahui
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Malaria

1. Pengertian
Malaria adalah penyakit infeksi menular yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Penderita malaria akan mengeluhkan gejala demam dan menggigil.
Walaupun mudah menular melalui gigitan nyamuk, malaria bisa sembuh secara total bila ditangani dengan tepat. Namun jika tidak ditangani, penyakit ini bisa berakibat fatal dari menyebabkan anemia berat, gagal ginjal, hingga kematian.

2. Penderita Malaria
Menurut WHO, pada 2015 terdapat 214 juta kasus malaria baru di seluruh dunia. Di tahun yang sama, terjadi 438.000 kasus malaria yang berujung pada kematian. Wilayah dengan angka kematian tertinggi adalah Afrika sebanyak 90 persen, diikuti oleh Asia Tenggara sebanyak 7 persen.
Di Indonesia sendiri, prevalensi malaria pada tahun 2014 adalah 6 persen. Lima provinsi dengan insiden dan prevalensi tertinggi adalah Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku.

3. Penyebab Malaria
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium. Parasit ini ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Ada banyak jenis Plasmodium, tetapi hanya lima yang dapat menyebabkan infeksi di tubuh manusia. Nyamuk ini biasanya menggigit manusia pada malam hari. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke tubuh melalui aliran darah.
Dari lima jenis parasit Plasmodium yang dapat menginfeksi manusia, kasus yang paling banyak ditemukan di Indonesia hanya dua jenis:

Plasmodium falciparum
Ini adalah penyebab malaria paling umum dan menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian yang diakibatkan oleh malaria.

Plasmodium vivax
Parasit ini menimbulkan gejala yang sedikit lebih ringan daripada malaria yang disebabkan Plasmodium falciparum. Namun, Plasmodium vivax dapat membuat malaria kambuh kembali karena dapat bertahan di dalam organ hati selama tiga tahun.
Waktu kemunculan gejala dari gigitan nyamuk atau masa inkubasi adalah:

9 hingga 14 hari pada malaria akibat Plasmodium falciparum.
12 hingga 18 hari pada malaria akibat Plasmodium vivax.

Penyebaran malaria dilakukan oleh nyamuk Anopheles betina yang sudah terinfeksi parasit Plasmodium. Nyamuk akan terinfeksi apabila menggigit penderita malaria. Kemudian, nyamuk akan menyebarkan parasit pada manusia lain melalui gigitannya. Biasanya nyamuk ini menggigit pada malam hari.
Pada saat gigitan, parasit masuk ke aliran darah dan bergerak ke organ hati. Infeksi awal akan terjadi dan berkembang di organ hati. Parasit kemudian kembali masuk ke aliran darah dan menyerang sel darah merah.
Parasit menggunakan sel darah merah sebagai tempat berkembang biak. Dengan interval reguler, sel darah merah yang sudah penuh parasit malaria akan meletus. Ini menyebabkan ada lebih banyak lagi parasit yang berada di dalam aliran darah.
Sel darah merah yang sudah terinfeksi ini meletus setiap dua hingga tiga hari. Pada saat hal itu terjadi, penderita malaria akan mengalami gejala demam, menggigil, dan berkeringat.
Parasit penyebab malaria memengaruhi sel darah merah, ini menyebabkan penularan juga dapat terjadi apabila terjadi kontak antara individu dan darah yang terinfeksi.
Meski jarang sekali terjadi, proses berikut dapat menularkan infeksi malaria juga:

Penderita malaria yang sedang hamil dapat menularkannya ke janin yang sedang dikandung
Berbagi jarum suntik dengan penderita malaria
Transfusi darah

4. Alasan Kami Memilih Malaria
Karena nyamuk malaria tidak asing lagi di lingkungan kita dan penderitanya pun cukup banyak, jadi kami tertarik untuk membahas penyakit malaria yang umumnya disebabkan oleh nyamuk Anopheles (betina).

5. Gejala Malaria
Gejala malaria timbul setidaknya 10-15 hari setelah digigit nyamuk. Munculnya gejala melalui tiga tahap selama 6-12 jam, yaitu menggigil, demam dan sakit kepala, lalu mengeluarkan banyak keringat dan lemas sebelum suhu tubuh kembali normal. Tahapan gejala malaria dapat timbul mengikuti siklus tertentu, yaitu 3 hari sekali (tertiana) atau 4 hari sekali (kuartana).

6. Cara Penyembuhan
Malaria harus segera ditangani untuk mencegah risiko komplikasi yang berbahaya. Penanganan malaria dapat dilakukan dengan pemberian obat antimalaria. Obat-obatan ini perlu disesuaikan dengan jenis parasit penyebab malaria, tingkat keparahan, atau riwayat area geografis yang pernah ditinggali penderita.
Malaria diobati dengan obat antimalaria; yang digunakan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit. Meskipun obat terhadap demam umum digunakan, efek obat itu tidak jelas
Malaria tanpa komplikasi dapat diobati dengan obat oral. Pengobatan yang paling efektif untuk infeksi P. falciparum adalah penggunaan artemisinin dalam kombinasi dengan obat antimalaria lainnya (dikenal sebagai terapi artemisinin-kombinasi, atau artemisinin-combination therapy [ACT]), yang menurunkan resistensi terhadap komponen obat tunggal. Obat antimalaria tambahan ini meliputi: amodiakuin, lumefantrin, meflokuin atau sulfadoksin/pirimetamin. Kombinasi lain yang direkomendasikan adalah dihidroartemisinin dan piperakuin. ACT ini efektif pada 90% kasus malaria tanpa komplikasi. Untuk mengobati malaria selama kehamilan, WHO merekomendasikan penggunaan kuinin ditambah klindamisin di awal kehamilan (trimester 1), dan ACT di tahap akhir (trimester 2 dan 3). Pada awal 2000-an, malaria dengan resistensi parsial terhadap artemisin muncul di Asia Tenggara.
Infeksi P. vivax, P. ovale atau P. malariae biasanya diobati tanpa perlu rawat inap. Pengobatan P. vivax membutuhkan baik pengobatan tahapan parasit dalam darah (dengan klorokuin atau ACT) dan pembersihan bentuk parasit dalam hati dengan primakuin.
Pengobatan yang direkomendasikan untuk malaria berat adalah penggunaan obat antimalaria intravena. Untuk malaria berat, artesunat lebih unggul dari kuinina pada anak-anak dan orang dewasa. Pengobatan malaria berat melibatkan unit perawatan intensif, termasuk pengelolaan demam tinggi, kejang, gagal napas, gula darah rendah, dan kalium darah rendah.

7. Cara Pencegahan
Pencegahan bisa dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dengan memasang kelambu pada tempat tidur, menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, serta menggunakan krim atau semprotan antinyamuk.

8. Diagnosis Penyakit
Pemeriksaan darah untuk mendiagnosa malaria meliputi tes diagnostik cepat malaria (RDT malaria) dan pemeriksaan darah penderita di bawah mikroskop. Tujuan pemeriksaan darah di bawah mikroskop adalah untuk mendeteksi parasit penyebab malaria dan mengetahui jenis malarianya. Karena sifat non-spesifik dari gejala malaria, diagnosis malaria di daerah non-endemik membutuhkan tingkat kecurigaan yang tinggi, yang mungkin ditimbulkan oleh salah satu dari berikut: riwayat perjalanan baru-baru ini, pembesaran limpa, demam, jumlah rendah trombosit dalam darah, dan tingkat bilirubin yang lebih tinggi dari normal dalam darah dikombinasikan dengan tingkat normal sel darah putih.
Malaria biasanya dikonfirmasi oleh pemeriksaan mikroskopis dari film darah atau uji diagnostik cepat (rapid diagnostic tests, RDT) berdasarkan-antigen. Mikroskop adalah metode yang paling umum digunakan untuk mendeteksi parasit malaria—sekitar 165 juta film darah diperiksa untuk malaria pada tahun 2010. Meskipun penggunaan secara luas, diagnosis dengan mikroskop memiliki dua kelemahan utama: banyak keadaan (terutama di pedesaan) tidak dilengkapi untuk melakukan tes, dan keakuratan hasil bergantung pada keterampilan orang yang memeriksa film darah dan kadar parasit dalam darah. Sensitivitas film darah berkisar 75-90% dalam kondisi optimum, hingga serendah 50%. RDT yang tersedia secara komersial sering lebih akurat daripada film darah dalam memprediksi adanya parasit malaria, tetapi mereka sangat beragam dalam sensitivitas diagnostik dan spesifisitas tergantung pada produsen, dan tidak dapat mengatakan berapa banyak parasit yang hadir.
Di daerah di mana tes laboratorium sudah tersedia, malaria harus dicurigai, dan diuji, dalam setiap orang sehat yang pernah ke daerah endemik malaria. Di daerah yang tidak mampu tes diagnostik laboratorium, telah menjadi umum untuk menggunakan hanya riwayat demam sebagai indikasi untuk mengobati malaria sehingga pengajaran umum "demam sama dengan malaria kecuali jika terbukti sebaliknya". Kelemahan dari praktik ini adalah overdiagnosis malaria dan salah urus demam non-malaria, yang membuang sumber daya yang terbatas, mengikis kepercayaan dalam sistem perawatan kesehatan, dan memberikan kontribusi untuk resistensi obat. Meskipun tes berdasarkan reaksi berantai polimerase telah dikembangkan, mereka tidak banyak digunakan di daerah di mana malaria adalah umum pada 2012, karena kompleksitasnya.

9. Hubungan Malaria dengan Sistem Sirkulasi Darah
Penyebab utama malaria adalah Plasmodium. Parasit ini menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Setelah ditularkan melalui gigitan nyamuk, Plasmodium akan masuk ke dalam aliran darah dan terbawa hingga ke sel hati untuk berkembang biak di dalamnya.
Setelah berkembang cukup banyak, Plasmodium akan pecah. Kemudian masuk ke dalam pembuluh darah lalu menyerang sel darah merah sebagai tempat berkembangbiaknya.
Proses tersebut akan terulang pada sel darah merah yang ditempati. Akibatnya, lama-kelamaan Plasmodium akan menyebar ke seluruh tubuh. Hanya dalam waktu 36-72 jam, Plasmodium akan berkembang biak dengan pesat dan memicu pecahnya sel darah merah.
Kondisi inilah yang memicu demam pada pasien. Semakin banyak sel darah merah yang terinfeksi, semakin tinggi pula demam yang diderita.

10. Klasifikasi
Malaria diklasifikasikan menjadi "parah" atau "tidak berkomplikasi" oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO).Malaria dianggap parah ketika terdapat salah satu kriteria berikut ini, jika tidak maka dianggap tidak berkomplikasi.

Kesadaran menurun
Kelemahan yang signifikan sehingga orang tersebut tidak bisa berjalan
Ketidakmampuan untuk makan
Dua atau lebih kejang
Tekanan darah rendah (kurang dari 70 mmHg pada orang dewasa dan 50 mmHg pada anak-anak)
Masalah pernapasan
Kejutan sirkulasi
Gagal ginjal atau hemoglobin dalam urin
Masalah perdarahan, atau hemoglobin kurang dari 50 g/L (5 g/dL)
Edema paru
Glukosa darah kurang dari 2,2 mmol/L (40 mg/dL)
Asidosis atau tingkat laktat yang lebih besar dari 5 mmol/L
Tingkat parasit dalam darah lebih besar dari 100.000 per mikroliter (µL) di daerah transmisi intensitas rendah, atau 250.000 per µL di daerah transmisi intensitas tinggi.
Ada lebih dari 100 jenis Plasmodium namun para ilmuwan telah mengidentifikasi lima jenis Plasmodium yang secara khusus mampu menginfeksi manusia, di antaranya:

a. P. falciparum
Parasit penyebab malaria ini berada di seluruh dunia, tapi mayoritas di Afrika. Diperkirakan 1 juta orang terbunuh karena strain ini setiap tahunnya. Strain ini dapat berkembang biak dengan cepat menjadi malaria berat, misalnya hingga menyerang otak. Namun, strain ini tidak mampu relaps.

b. P. vivax
Terletak di Amerika Latin, Afrika, dan Asia (terbanyak di Asia). Strain ini memiliki stadium aktif yang di hati yang dapat mengaktifkan dan menyerang darah setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, yang disebut dengan relaps/kambuh.

c. P. ovale
Terletak terutama di daerah Afrika Barat, yang secara biologis dan morfologi sangat mirip dengan P. vivax. Strain ini mampu menyerang golongan darah Duffy negatif, yang merupakan golongan pada mayoritas penduduk sub-Sahara Afrika. Ini menjelaskan bahwa prevalensi strain ini (bukan P. vivax) sebagian besar di Afrika.

d. P. malariae
Terletak di seluruh dunia dan satu-satunya parasit malaria yang aktif setiap 3 hari. Jika tidak diobati, P. malariae dapat menyebabkan infeksi kronis yang dapat bertahan seumur hidup.

e. P. knowlesi
Terletak di Asia Tenggara dan diketahui memiliki siklus 24 jam. Oleh karena strain ini dapat berkembang biak dengan cepat pada pasien, kasus yang fatal dari strain ini juga dilaporkan.

Vektor
Terdapat sekitar 430 Anopheles sp tetapi hanya 30-40 spesies merupakan vektor penularan malaria. Nyamuk-nyamuk malaria tersebut menggigit sejak waktu matahari terbenam hingga waktu matahari terbit. Hanya nyamuk malaria betina yang mampu menularkan penyakit ini pada manusia. Nyamuk yang paling sering menggigit manusia, secara berurutan adalah spesies Anopheles sundaicus, Anopheles gambiae, Anopheles freeborni, Anopheles dirus.

Inang (Host)
Host malaria adalah terutama manusia tetapi hewan peliharaan dan ternak seperti babi, sapi, dan anjing juga dapat menjadi host malaria. Plasmodium knowlesi memiliki host spesifik monyet dan di Indonesia terdapat di Kalimantan. Walau demikian, terdapat penyebaran dari monyet ke manusia sehingga menyebabkan kematian.

11. Patofisiologi
Patofisiologi infeksi malaria berkembang melalui dua fase.  Fase 1 dalam tubuh manusia dan fase 2 dalam tubuh nyamuk malaria.

a. Fase dalam Tubuh Manusia
Dalam tubuh manusia, terdapat dua tahapan yang terjadi, yaitu siklus ekso eritrosit dan eritrosit.

Siklus Ekso Eritrosit

Ketika nyamuk betina Anopheles sp yang terinfeksi plasmodium malaria menggigit manusia, sejumlah sporozoit yang terdapat dalam air liur nyamuk masuk ke dalam peredaran darah manusia. Sporozoit ini kemudian akan menginvasi hepar, berkembang biak dan bertambah banyak secara aseksual. Situasi ini berlangsung sekitar 8 hingga 30 hari secara asimtomatik.
Plasmodium menjadi dorman dalam hepar dalam suatu periode waktu tertentu, kemudian organisme ini akan melepaskan ribuan merozoit ke dalam aliran darah seiring dengan rupturnya sel-sel hepar. Merozoit ini akan memasuki dan menginfeksi sel-sel darah merah untuk memulai siklus eritrosit kehidupannya.
Disfungsi hepar akibat dari infeksi malaria sangat jarang terjadi. Biasanya terjadi pada penderita yang telah mengidap penyakit sebelumnya seperti hepatitis virus, penyakit hati kronis. Sindrom yang terjadi disebut sebagai malaria hepatitis. Telah dilaporkan, kejadian yang meningkat akan malaria hepatopati yang terjadi di Asia Tenggara dan India.
Sejumlah sporozoit dari Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale tidak segera berkembang menjadi merozoit dalam siklus ekso-eritrosit nya tapi memproduksi sejumlah hipnozoit. Hipnozoit ini mampu bertahan dalam sel-sel hepar untuk jangka waktu panjang berbulan-bulan hingga tahunan, secara tipikal 7-10 bulan. Setelah periode dorman, hipnozoit ini akan kembali aktif dan memproduksi merozoit-merozoit untuk dilepaskan ke dalam peredaran darah. Hipnozoit bertanggungjawab untuk masa inkubasi yang panjang dan terjadinya relaps di kemudian hari.

Siklus Eritrosit

Merozoit yang memasuki dan menginfeksi eritrosit akan mengalami proses skizogoni menjadi tropozoit imatur stadium cincin (ring stage) yang kemudian akan melalui 2 tahapan.

1.Maturasi Tropozoit

Tropozoit akan tumbuh dan berkembang menjadi tropozoit matur yang lalu berubah menjadi skizon. Skizon akan menyebabkan terjadinya rupture eritrosit dan terlepas bebas ke dalam aliran pembuluh darah untuk kemudian memasuki eritrosit sehat dan membentuk tropozoit imatur kembali.
Adanya sejumlah tropozoit dalam peredaran darah manusia, akan menjadikan tubuh manusia melepaskan sitokin (cytokine) secara alami, sebagai respon terhadap parasitemia tersebut.

2. Pembentukan gametosit

Tropozoit imatur juga akan berkembang menjadi gametosit yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi gametosit jantan (mikrogamet) dan betina (makrogamet). Gametosit ini beredar dalam darah. Apabila penderita digigit nyamuk Anopheles, maka gamet jantan dan betina akan masuk ke dalam tubuh nyamuk, dan mulai menjalani siklus hidup selanjutnya sampai membentuk sporozoit kembali.

Mekanisme Proteksi Malaria

Parasit malaria berdiam dalam hepar dan sel-sel darah sehingga secara relatif tidak terdeteksi dan terlindungi dari sistem imun tubuh. Namun parasite malaria tetap dapat dihancurkan dalam limpa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, organisme ini akan membentuk protein sehingga sel darah merah yang terinfeksi dapat melekat pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya blokade pembuluh darah mikro.

b. Fase dalam Tubuh Nyamuk (Siklus Sporogonik)

Dalam tubuh nyamuk, mikrogamet akan melepaskan flagelanya, siap bereproduksi dengan makrogamet secara seksual. Mikrogamet akan melakukan penetrasi terhadap makrogamet dalam lambung nyamuk, menghasilkan sejumlah zigot. Zigot, kemudian akan menjadi motil dan memanjang, disebut sebagai ookinet. Sejumlah ookinet akan menginvasi dinding usus nyamuk untuk membentuk ookis. Ookis tumbuh, ruptur dan melepaskan sejumlah sporozoit, lalu beredar memasuki kelenjar liur nyamuk dan siap menginfeksi host berikutnya.

12. Epidemiologi

Malaria secara epidemiologi adalah penyakit endemik di daerah tropis dunia. Di Indonesia, malaria terutama ditemukan di daerah Indonesia timur.

Global

Malaria terjadi terutama di daerah tropis, tergolong sebagai penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan kematian bila tidak tertangani baik.
Malaria menjadi endemik di 97 negara-negara dunia, terutama di sub-Saharan Afrika, Amerika Selatan dan Sentral, sebagian Karibia, Asia, Eropa Timur dan Pasifik Selatan. Sekitar 214 juta kasus malaria terjadi secara global pada tahun 2015, kematian terjadi pada 438.000 pengidap, yang terbanyak adalah anak-anak Afrika.
Nyamuk Anopheles sp dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali Antartika. Spesies Anopheles yang menularkan penyakit ini berbeda di tiap negara endemik, bahkan berbeda-beda pada tiap daerah endemik di suatu negara. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan perbedaan preferensi habitat akuatik pada setiap spesies nyamuk tersebut.

Indonesia

Daerah malaria meliputi hampir lima provinsi, yaitu Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Sedangkan, di provinsi lainnya, risiko malaria berada dalam beberapa daerah kabupaten kecuali di Jakarta, kota-kota besar, perkotaan, dan daerah turisme.
Pada tahun 2015, angka kejadian malaria (annual parasite incidence) adalah 0,85 per 1000 populasi yang berisiko, dengan total 209.413 kasus positif malaria.
Telah dilaporkan resistensi Plasmodium vivax terhadap chloroquine. Infeksi Plasmodium knowlesi pernah dilaporkan terjadi di Kalimantan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar