Gangguan Sistem
Peredaran Darah
Sistem peredaran darah pada manusia merupakan sistem
peredaran darah tertutup dan sistem peredaran darah ganda. Sistem peredaran
darah manusia terdiri atas darah, jantung, dan pembuluh darah (arteri, kapiler,
dan vena).
Setiap sistem dalam tubuh, pasti ada kondisi fisiologis dan kondisi
patofisiologis. Apa yang dimaksud dengan kondisi fisiologi dan patofisiologi?
Kondisi fiisiologi merupakan mekanisme sebuah sistem secara normal. Sedangkan
kondisi patofisiologi merupakan
mekanisme yang salah dan menyebabkan beberapa penyakit.
Apabila sistem sirkulasi Anda mengalami gangguan, hal
tersebut pasti akan sangat berdampak bagi fungsi tubuh . Benar, organ tubuh
bisa mengalami kerusakan mengakibatkan beberapa penyakit serius.
Apa itu gangguan sistem peredaran darah?
Gangguan sistem peredaran darah adalah kelainan atau
penyakit yang terjadi pada sistem peredaran atau sirkulasi darah manusia baik
yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Mungkin kita semua sudah mengetahui, alat peredaran
darah manusia terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Kemudian, komponen
penyusun darah yaitu plasma darah, sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), dan keping darah (trombosit).
Gangguan pada sistem peredaran darah manusia bisa
terjadi karena adanya kelainan pada komponennya. Gangguan sistem peredaran
darah adalah gangguan yang terjadi pada jantung, pembuluh darah, dan sel darah.
Kelainan Jantung
Gangguan pada jantung bisa mengakibatkan penyakit
jantung koroner, gagal jantung, stenosis (kekakuan), aritmia (irama jantung
yang tidak beraturan).
Kelainan Pembuluh Darah
Gangguan pada pembuluh darah dapat terjadi pada setiap
tipe pembuluh darah. Beberapa gangguan yang mungkin terjadi pada pembuluh darah
manusia adalah aneurisma aorta (pembesaran pembuluh darah aorta), hipertensi
(tekanan darah tinggi), atherosclerosis (penimbunan plak dalam pembuluh darah).
Kelainan Pada Sel Darah
Kelainan pada sel darah adalah suatu kondisi di mana
terdapat gangguan pada fungsi darah dalam tubuh. Kelainan darah terjadi jika
salah satu komponen darah tidak dapat berfungsi dengan normal.
Terdapat beberapa jenis kelainan pada sel darah, baik
yang menurunkan jumlah sel darah maupun yang meningkatkan jumlah sel darah.
Salah satu dari penyakit tersebut adalah Thalasemia.
THALASEMIA
Apakah kalian pernah mendengar tentang penyakit ini?
Ya, Thalasemia merupakan penyakit yang sudah sering kita dengar bukan? Di sekolah,
buku, internet, media sosial, dan sebagainya. Tapi, sebenarnya apakah kalian
mengetahui apa itu penyakit Thalasemia?
Apakah Thalasemia itu?
Thalasemia adalah kelainan darah genetik yang
disebabkan oleh pembentukan hemoglobin yang abnormal. Sel darah berbentuk tidak
normal, cepat rusak, kekurangan oksigen, dan berumur 2-4 kali lebih pendek
dibanding darah normal. Thalasemia menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin dalam
darah. Akibatnya peredaran oksigen dalam tubuh terhambat. Karena hemoglobin
sendiri berfungsi sebagai pengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Thalasemia dibagi menjadi dua, yaitu thalasemia mayor
dan minor. Thalasemia mayor adalah penderita thalasemia. Sedangkan thalasemia
minor adalah pembawa gen thalasemia. Umumnya, pengidap thalasemia minor tidak
dapat dibedakan dengan manusia sel darah normal. Mereka dapat bekerja,
beraktivitas, dan mendonorkan darah.
Thalasemia perlu diwaspadai, terutama thalasemia yang
berat (mayor), karena dapat menyebabkan komplikasi berupa gagal jantung, pertumbuhan
terhambat, gangguan hati, hingga kematian.
Apa saja gejala Thalasemia?
Gejala thalasemia tergantung pada tingkat keparahan
dan jenis penyakit yang dimiliki. Seseorang terkena thalasemia mayor apabila ia
menerima gen dari kedua orang tuanya. Bila seseorang tersebut mewarisi gen
hanya dari ibu atau ayah, maka ia hanya menderita jenis minor.
Jika Anda memiliki kelainan sel darah merah berjenis
minor, maka Anda mungkin menderita gejala atau hanya anemia ringan. Dalam
situasi seperti itu, tidak diperlukan pengobatan.
Namun, pasien dengan thalasemia mayor mungkin
mengalami gejala-gejala yang lebih berat, di antaranya meliputi:
·
Bayi
meninggal saat dilahirkan. Selama kelahiran atau tahap akhir kehamilan, anak
Anda mungkin berpeluang besar untuk meninggal.
· Anemia
berat selama tahun pertama kehidupan
· Kecacatan
tulang di wajah
· Kelelahan
· Kegagalan
pertumbuhan
· Sesak
napas
· Kulit
kuning (jaundice)
· Pembesaran
limpa
· Penampilan
terlihat pucat dan lesu
· Nafsu
makan yang buruk
· Urin
berwarna gelap (tanda bahwa sel-sel darah merah terurai)
Apa yang menyebabkan terjadinya penyakit
Thalasemia?
Thalasemia disebabkan oleh kelainan genetik yang
memengaruhi produksi sel darah merah. Hemoglobin tidak terbentuk dengan
sempurna. Sehingga sel darah merah menjadi mudah rusak dan penderita mengalami
kekurangan darah. Kelainan genetik ini diturunkan dari orang tua, dan tetap
dapat diturunkan walaupun orang tua tidak mengalami gejala.
Hemoglobin sendiri merupakan bagian terpenting dari
sel darah merah. Hemoglobin memiliki dua jenis rantai protein, yaitu globin
alfa dan globin beta.
Jika tubuh Anda tidak mampu membuat banyak rantai
protein, atau protein yang dihasilkan tidak normal, sel-sel darah merah tidak
akan berfungsi dengan benar dan membawa oksigen dengan cukup.
Tubuh Anda tidak akan bekerja dengan baik jika sel-sel
darah merah Anda tidak membuat hemoglobin sehat yang cukup.
1. Thalasemia Alfa
Empat gen diperlukan dalam proses memproduksi rantai
hemoglobin alfa. Setiap orangtua akan mewariskan dua gen untuk Anda. Ketika Anda
menerima:
· Satu gen
bermutasi. Ini berarti Anda tidak akan memiliki tanda-tanda penyakit. Namun,
Anda mungkin akan mewariskan gen mutasi tersebut pada anak-anak Anda sehingga
meningkatkan risiko mereka untuk mengidap thalasemia.
· Dua gen
bermutasi. Anda mungkin menderita anemia ringan.
· Tiga gen
bermutasi. Anda mungkin memiliki penyakit hemoglobin H (yang dapat dideteksi
tes darah). thalasemia yang menyebabkan anemia sedang hingga berat.
· Empat
gen bermutasi. Kondisi ini disebut fetalis alpha thalasemia mayor atau hydrop.
Bayi yang memiliki hydrop fetalis seperti itu biasanya meninggal sebelum atau
segera setelah lahir.
2. Thalasemia Beta
· Dua gen
yang diperlukan dalam proses memproduksi rantai beta hemoglobin. Setiap orang
tua akan mewariskan satu gen untuk Anda. Ketika Anda menerima:
· Satu gen
bermutasi. Kondisi ini disebut dengan beta thalasemia trait atau beta
thalasemia minor. Kondisi seperti ini menyebabkan anemia ringan.
· Dua gen
bermutasi. Kondisi ini dapat berkembang ke bentuk moderat, yang disebut dengan
intermedia beta thalasemia atau bentuk utama yang disebut anemia Cooley.
Bagaimana mekanisme penurunan penyakit
Thalasemia?
Penyakit Thalasemia diturunkan dari orang tua kepada
anaknya. Ada beberapa kondisi yang memungkinkan terjadi penurunan penyakit thalasemia.
Diantaranya adalah :
· Kondisi
pertama, bila penderita thalasemia mayor menikah dengan sesama penderita
thalasemia mayor. Maka, keturunannya akan mendapat 100 % menderita thalasemia
mayor juga.
· Kondisi
kedua, bila penderita thalasemia mayor menikah dengan penderita thalasemia
minor. Maka, keturunannya akan mendapat 50% menderita thalasemia mayor dan
minor.
· Kondisi
ketiga, bila penderita thalasemia minor menikah dengan sesama penderita
thalasemia minor. Maka, keturunannya akan mendapat 25 % penderita thalasemia
mayor, normal, dan dua penderita thalasemia minor.
· Kondisi
keempat, bila penderita thalasemia minor menikah dengan manusia normal. Maka,
keturunannya akan mendapat thalasemia minor dan normal.
· Kondisi
kelima, bila penderita thalasemia mayor menikah dengan manusia normal. Maka,
keturunannya akan mendapat penderita thalasemia minor.
Apa saja
komplikasi yang diakibatkan oleh Thalasemia?
Jika penyakit ini tidak segera mendapatkan pertolongan
atau penanganan medis, kemungkinan penderita akan mengalami masalah atau
komplikasi kesehatan lainnya, seperti:
1. Kelebihan zat besi
Penderita thalasemia mayor memerlukan transfusi darah
berulang-ulang seumur hidupnya. Masalahnya, di dalam 250 ml darah terdapat 250
Mg zat besi. Orang-orang dengan penyakit ini mungkin akan memiliki terlalu
banyak zat besi di dalam tubuhnya, baik dari penyakit itu sendiri atau dari
transfusi darah yang cukup sering.
Terlalu banyak zat besi dapat mengakibatkan kerusakan pada
jantung, hati, dan sistem endokrin tubuh. Hal ini juga meliputi
kelenjar-kelenjar penghasil hormon tubuh.
2. Infeksi
Penderita penyakit ini memiliki risiko lebih tinggi
untuk terserang infeksi. Kondisi ini dapat diperparah apabila penderita telah
menjalani prosedur pengangkatan limpa.
3. Kelainan pada struktur tulang
Penyakit ini dapat menyebabkan sumsum tulang membesar,
sehingga tulang pun dapat melebar. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelainan
pada struktur tulang, terutama di wajah dan tulang tengkorak.
Pembesaran sumsum tulang juga dapat menyebabkan tulang
memiliki tekstur yang rapuh dan tipis, sehingga peluang untuk mengalami patah
tulang jauh lebih besar.
4. Diabetes
Kelebihan zat besi juga dapat memengaruhi kadar gula
darah, sehingga penderita penyakit ini lebih rentan mengalami diabetes. Selain
itu, kerusakan hati dan infeksi virus pada penderita penyakit ini juga dapat
memicu kemunculan diabetes.
5. Pembesaran limpa (splenomegali)
Limpa membantu tubuh melawan infeksi dan menyaring
zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh, seperti sel-sel yang rusak dan mati.
Thalasemia adalah penyakit yang menyebabkan banyak sel-sel darah merah
mengalami kerusakan.
Jika hal tersebut terjadi, limpa akan membengkak dan
bekerja lebih keras dari biasanya. Splenomegali juga dapat memperparah kondisi
anemia serta mengurangi usia sel-sel darah merah yang ditransfusi ke dalam
tubuh.
6. Pertumbuhan terlambat
Penyakit ini dapat menyebabkan perlambatan dalam
pertumbuhan penderitanya, terutama anak-anak. Selain itu, masa pubertas pun
mungkin akan tertunda pada penderita penyakit ini.
7. Masalah pada jantung
Jika penyakit yang diderita tergolong parah, ada
kemungkinan pasien akan memiliki jantung yang bermasalah. Beberapa penyakit
jantung yang dapat terjadi adalah gagal jantung kongestif dan ritme jantung
tidak teratur (aritmia).
Bagaimana upaya pencegahan agar
penderita Thalasemia tidak bertambah?
Satu-satunya cara untuk mencegah bertambahnya
penderita thalasemia adalah dengan cara menghindari pernikahan sesama pembawa
gen thalasemia. Biasanya sebelum menikah, akan di adakan pemeriksa kesehatan
pranikah. Di dalam pemeriksaan ini, Anda akan melakukan screening darah untuk
memeriksa kesehatan darah Anda.
Screening Thalasemia Sebelum Menikah
Sebelumnya telah disebutkan bahwa penyakit Thalasemia
diturunkan oleh salah satu orangtua ataupun kedua orangtua penderita penyakit
yang menyerang sel darah merah ini. Untuk itu, setiap pasangan yang hendak
menikah dianjurkan untuk menjalani screening Thalasemia terlebih dahulu.
Screening ini digunakan untuk mencegah penyebaran
Thalasemia kepada calon jabang bayi. Screening Thalasemia merupakan metode
pengujian yang ditujukan untuk mengetahui gen Thalasemia di dalam darah
sepasang calon suami istri.
Pengobatan apa saja yang harus dijalani oleh
penderita Thalasemia?
Peluang untuk sembuh dari penyakit ini memang masih
kecil karena kondisi fisik penderitanya, ketersediaan darah, hingga biaya yang
harus dikeluarkan untuk melakukan transfusi darah. Untuk bertahan hidup atau
memperpanjang usia, penderita memang harus memerlukan perawatan rutin, dan
terus menerus.
Pengobatan thalasemia ditentukan berdasarkan jenis dan
tingkat keparahan thalasemia. Penderita thalasemia minor biasanya tidak
membutuhkan penanganan khusus. Beberapa perawatan standar untuk penderita
thalasemia mayor adalah:
1. Transfusi
Darah Berulang
Penderita
thalasemia mayor perlu melakukan transfusi darah tiap beberapa minggu. Sebelum
transfusi darah dilakukan, darah penderita dan darah donor akan dicocokkan
untuk menghindari reaksi yang tidak diinginkan.
Meskipun
diperlukan, transfusi darah yang dilakukan berulang kali dapat menyebabkan
penumpukan zat besi di dalam tubuh. Kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi
berupa penyakit liver atau penyakit jantung.
Untuk
mencegahnya, penderita perlu mendapatkan terapi kelasi. Obat yang diberikan
dalam terapi ini bisa dalam bentuk tablet maupun suntik, dan berfungsi untuk
menarik zat besi dari dalam tubuh. Contoh obatnya adalah deferiprone,
deferasirox, dan deferoxamine. Terapi kelasi akan dimulai satu atau dua tahun
setelah penderita menjalani transfusi darah rutin.
2. Transplantasi
Darah dan Sel Induk Sumsum
Transplantasi
darah dan sel induk sumsum dilakukan untuk mengganti sel-sel induk yang rusak dengan
yang sehat dari pendonor. Sel induk adalah sel-sel di dalam sumsum tulang yang
berperan dalam produksi sel-sel darah merah dan jenis-jenis sel darah lainnya.
Prosedur ini
dilakukan untuk menggantikan sumsum tulang yang terkena thalasemia. Sumsum tulang
yang akan ditransplantasikan diambil dari pendonor yang sehat dan cocok dengan
penderita, agar sumsum tulang ini dapat menghasilkan sel darah yang normal.
Transplantasi
sel induk merupakan satu-satunya pengobatan yang dapat menyembuhkan
thalassemia. Tetapi hanya sedikit pasien thalassemia berat yang mampu menemukan
donor yang cocok.
Sayangnya,
risiko prosedur ini cukup serius, yaitu penolakan tubuh penderita terhadap
sumsum tulang donor. Itulah sebabnya manfaat dan risiko pengobatan thalasemia
dengan transplantasi sumsum tulang perlu didiskusikan secara mendalam dengan
dokter. Prosedur ini biasanya hanya dianjurkan pada thalasemia yang sudah
parah.
3. Operasi
Pengangkatan Limpa
Prosedur
operasi pengangkatan limpa (splenektomi) dilakukan jika organ limpa sudah
sangat membesar, karena pembesaran organ limpa (splenomegali) akan memperparah
anemia yang dialami penderita.
Namun
sebelum operasi, penderita akan diminta untuk melakukan vaksinasi, seperti
vaksinasi untuk penyakit hepatitis B, pneumonia, dan meningitis. Hal ini
dilakukan karena penderita akan lebih berisiko untuk mengalami infeksi setelah
organ limpanya diangkat.
4. Terapi Khelasi Zat Besi
Hemoglobin
dalam sel darah merah merupakan protein yang kaya zat besi. Melalui tranfusi
secara teratur, zat besi dalam darah akan menumpuk pada organ-organ tertentu,
seperti hati, jantung, dan organ tubuh lain. Kondisi ini disebut kelebihan zat
besi atau iron overload.
Untuk
mencegah kerusakan ini, dokter menggunakan terapi khelasi zat besi untuk
membuang kelebihan zat besi dari tubuh. Dua obat utama yang digunakan dalam
terapi khelasi besi adalah:
Deferoxamine
adalah obat cair yang diberikan perlahan-lahan di bawah kulit, biasanya melalui
pompa portabel kecil yang digunakan semalaman. Terapi ini membutuhkan waktu dan
sedikit menyakitkan. Efek samping obat ini adalah gangguan penglihatan dan
pendengaran.
Deferasirox
adalah pil yang diminum 1 kali sehari. Efek samping obat ini adalah sakit
kepala, mual (perut tidak nyaman), muntah, diare, nyeri sendi, dan kelelahan.
5. Suplemen
Asam Folat
Obat
thalasemia lainnya yang bisa digunakan adalah suplemen asam folat. Pengobatan
thalasemia ini dapat membantu tubuh untuk memproduksi sel-sel darah yang sehat.
Asam folat
merupakan vitamin B yang membantu membangun sel-sel darah merah yang sehat.
Dokter mungkin merekomendasikan suplemen asam folat di samping pengobatan
transfusi darah dan atau terapi khelasi zat besi.
Perlu
diketahui, meski penyakit thalasemia bisa diobati dengan transplantasi sumsum
tulang dan transfusi darah, namun kedua metode pengobatan thalasemia ini tidak
cocok untuk semua penderita thalasemia dan bisa menyebabkan terjadinya sejumlah
komplikasi.
Pengobatan di masa mendatang
Para
peneliti terus mengembangkan pengobatan baru untuk thalassemia. Mungkin di masa
yang akan datang, ada terapi untuk menyisipkan gen hemoglobin normal menjadi
sel induk dalam sumsum tulang. Terapi ini memungkinkan tubuh pasien thalassemia
membuat sel-sel darah merah dan hemoglobin sendiri.
Para
peneliti juga sedang mempelajari cara-cara untuk merangsang kemampuan seseorang
untuk membuat hemoglobin janin setelah lahir. Jenis hemoglobin ini ditemukan
pada janin dan bayi yang baru lahir. Setelah lahir, tubuh beralih untuk membuat
hemoglobin dewasa. Membuat lebih banyak hemoglobin janin mungkin dapat menutupi
kurangnya hemoglobin dewasa yang sehat.
Bagaimana gaya hidup yang harus dijalani oleh penderita Thalasemia?
Tergantung
pada jenis thalasemia, penderita harus secara rutin menjalani pengobatan untuk
mengendalikan kondisi ini secara efektif. Pasien yang menerima transfusi harus
selalu mengikuti jadwal transfusi dan prosedur-prosedur medis yang ditetapkan
dokter.
Selain itu,
penderita juga dapat menjalankan beberapa tips dan perubahan gaya hidup seperti
di bawah ini:
1. Mengurangi konsumsi zat besi
Kurangi atau
hindari suplemen yang mengandung zat besi. Zat besi yang tinggi dapat
terakumulasi dalam jaringan, yang dapat berpotensi fatal, terutama ketika Anda
menjalani transfusi darah.
2. Makan makanan yang sehat
Dengan
menerapkan pola makan yang sehat, Anda akan terhindar dari
komplikasi-komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini.
Salah satu
hal penting yang harus Anda perhatikan adalah mengurangi konsumsi bayam, sereal
yang mengandung zat besi, atau bahan makanan apapun yang tinggi akan zat besi.
3. Jaga diri Anda
Turunkan
peluang Anda untuk terkena infeksi dengan sering mencuci tangan Anda, dan
hindari orang banyak selama musim flu dan musim dingin. Jaga kebersihan di
sekitar area tempat transfusi Anda. Hubungi dokter Anda jika Anda mengalami
demam atau tanda-tanda lain dari infeksi.
4. Menerapkan
Pola Hidup Sehat
Penderita
thalasemia perlu menjalani pola hidup sehat, dan dianjurkan untuk mengonsumsi
makanan rendah lemak, sayuran, dan buah-buahan. Penderita sebaiknya membatasi
makanan yang mengandung zat besi, seperti daging sapi dan ati ayam.
Olahraga
secara rutin juga penting untuk dilakukan. Namun, sebaiknya konsultasikan dulu
ke dokter mengenai jenis olahraga yang aman serta intensitasnya.
Untuk
melindungi diri dari infeksi, penderita dianjurkan untuk rajin mencuci tangan
dan membatasi interaksi dengan orang sakit. Perlindungan ini dibutuhkan
terutama untuk penderita yang sudah menjalani operasi pengangkatan limpa.
5. Konsumsi
Makanan Berkalsium dan Vitamin D
Penderita thalasemia bisa saja mengalami gejala tulang
rapuh, yang dapat berujung kepada komplikasi osteoporosis. Untuk itu,
disarankan kepada penderita agar memakan makanan yang mengandung kalsium dan
vitaminn D. Karena kalsium sendiri berfungsi untuk pertumbuhan dan pemeliharaan
gigi serta tulang. Sedangkan vitamin D juga berperan untuk menyerap kalsium dan
menjaga kesehatan gigi dan tulang.
Contoh makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D
adalah yogurt, telur, almond, brokoli, dan jus jeruk.
Sumber :
https://youtu.be/DzbK33HYOA0
Tugas Biologi Kelas XI - 7 MIPA
Kelompok 12 :
Salwa Aurida Tazqin (31)
Tasyafah Nurbasitha Hidayat (34)
Zidan Fadiansyah Sudrajat Putra (38)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar