Minggu, 27 Oktober 2019


Jantung koroner


Hasil gambar untuk jantung koroner


Salah satu penyakit kardiovaskular saat ini yang merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian di negara maju dan berkembang  adalah Jantung Koroner. Menurut statistik dunia 9,4 juta kematian setiap tahun disebabkan leh penyakit kardiovaskuler dan 45% kematian disebabkan oleh jantung koroner . Pada tahun 2010, secara global penyakit ini akan menjadi penyebab kematian pertama di negara berkembang, menggantikan kematian akibat infeksi. Diperkirakan bahwa diseluruh dunia, PJK pada tahun 2020 menjadi pembunuh pertama tersering yakni sebesar 36% dari seluruh kematian. Diperkirakan angka tersebut akan meningkat hingga 23,3 juta pada tahun 2030.

 Di Indonesia salah satu penyakit kardiovaskular yang terus menerus menempati urutan pertama adalah penyakit jantung koroner. Menurut survei Sample Registration System angka
kematian penyakit jantung koroner 12,9% dari seluruh kematian.6 Prevalensi penyakit jantung
koroner berdasarkan diagnosis dokter yang dilakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013
sebesar 0,5% sedangkan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5%. Hasil Riskesdas ini
menunjukkan penyakit jantung koroner berada pada posisi ketujuh tertinggi

Kasus Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskular, sebanyak 6,7 juta kematian disebabkan karena PJK. Di Indonesia, data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa terdapat 1,5 persen kasus PJK di Indonesia. Angka ini termasuk yang tertinggi di antara beberapa penyakit kardiovaskular lainnya.
Angka pasien penyakit jantung di Indonesia semakin meningkat dan tidak mengenal usia. Terutama untuk pasien penderita serangan jantung yang angka penderitanya semakin naik di tiap tahunnya. Sunanto,  salah seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospital pada Sabtu (6/4/2019) mengatakn “Indonesia soal penyakit jantung sangat memprihatinkan.
1.       Pengertian
Nama lengkap dari Jantung koroner sendiri adalah ”Penyakit  Jantung Arteri Koroner”.  Arteri  Koroner merupakan sistem pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung untuk menjaga fungsinya. Penyakit ini disebut demikian karena sistem arteri berbentuk seperti korona.  Penyakit jantung koroner ini disebabkan karena  arteri koroner nya menyempit atau tersumbat sehingga aliran darah dari jantung akan berkurang dan kurangnya pasokan oksigen ke otot-otot  jantung sehingga proses transportasi bahan-bahan energi akan terganggu. Akibatnya sel-sel jantung melemah dan bahkan bisa mati.

2.       Penyebab Penyakit jantung koroner (PJK)

-          Kebiasaan merokok

Sekitar 24% kematian akibat PJK pada laki-laki dan 11% pada perempuan disebabkan kebiasaan merokok. Orang yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok (perokok pasif) memiliki peningkatan resiko sebesar 20-30%. Resiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana orang yang merokok 20 batang rokok atau lebih dalam sehari memiliki resiko sebesar dua hingga tiga kali lebih tinggi menderita PJK dari pada yang tidak merokok (Leatham, 2006). Setiap batang rokok mengandung 4.800 jenis zat kimia, diantaranya karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen sianida, amoniak, oksida nitrogen, senyawa hidrokarbon,  nikotin, dan lain-lain. Nikotin yang masuk dalam pembuluh darah akan merangsang katekolamin dan bersama-sama zat kimia yang terkandung dalam rokok dapat merusak lapisan dinding koroner. Nikotin berpengaruh pula terhadap syaraf simpatik sehingga jantung berdenyut lebih cepat dan kebutuhan oksigen meninggi. Perokok beresiko mengalami seranggan jantung karena perubahan sifat keping darah yang cenderung menjadi lengket sehingga memicu terbentuknya gumpalan darah ketika dinding koroner terkoyak (Yahya, 2010).

-          Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus (DM) berpotensi menjadi ancaman terhadap beberapa organ dalam tubuh termasuk jantung. Keterkaitan diabetes mellitus dengan penyakit jantung sangatlah erat. Resiko serangan jantung pada penderita DM adalah 2-6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang tanpa DM. Jika seorang penderita DM pernah mengalami serangan jantung, resiko kematiannya menjadi tiga kali lipat lebih tinggi. Peningkatan kadar gula darah dapat disebabkan oleh kekurangan insulin dalam tubuh, insulin yang tidak cukup atau tidak bekerja dengan baik (Yahya, 2010).

-          Hipertensi (tekanan darah tinggi)

Hipertensi dapat menebalkan dinding bilik kiri jantung yang akhirnya melemahkan fungsi pompa jantung (Yahya, 2010). Resiko PJK secara langsung berhubungan dengan tekanan darah, untuk setiap penurunan tekanan darah diastolik sebesar 5mmHg resiko PJK berkurang sekitar 16% (Leatham, 2006).
-          Asterosklerosis karena penumpukan kolesterol
Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang terjadi ketika arteri menjadi mengeras dan menyempit. Hal tersebu disebabkan karena adanya penumpukan kolesterol dan bahan lainya yang disebut plak, pada dinding pembuluh darah.  Penumpukan ini disebut asterosklorosis. Seiiring berjalanya waktu, plak akakn semakin membesar sehingga aliran darah ke otot jantung semakin sedikit dan semakin sulit. Akibatnya otot jantung tidak bisa mendapatkan darah atau oksigen yang dibutuhkan.
-          Trombosis
Endapan lemak dan pengerasan pembuluh darah terganggu dan lamakelamaan berakibat robek dinding pembuluh darah. Pada mulanya, gumpalan darah merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegahan perdarahan berlanjut pada saat terjadinya luka. Berkumpulnya gumpalan darah dibagian robek tersebut, yang kemudian bersatu dengan keping-keping darah menjadi trombus. Trombosis ini menyebabkan sumbatan di dalam pembuluh darah jantung, dapat menyebabkan serangan jantung mendadak, dan bila sumbatan terjadi di pembuluh darah otak menyebabkan stroke (Kusrahayu, 2004).

3.       Gejala PJK
-          Rasa nyeri di dada yang tidak biasa
Tidak semua nyeri di dada adalah gejala penyakit jantung, namun sudah sewajarnya setiap nyeri di dada harus ditangani secara serius. Rasa nyeri akibat serangan jantung ini cukup khas, yakni seolah dada mendapatkan tekanan beban yang berat dan biasanya nyeri menghilang saat istirahat. Jika kondisi sudah berat atau parah, rasa nyeri tersebut biasanya tidak akan berkurang atau hilang meski sudah beristirahat.
-          Sering pusing dan mudah lelah
Pusing bisa jadi adalah efek dari fungsi jantung yang tidak normal. Biasanya pusing akibat jantung ini biasanya terasa berbeda dibanding rasa pusing pada umumnya. Sebab seringkali diikuti dengan perasaan mudah lelah akibat sirkulasi darah terganggu.
-          Gastrointestinal : gangguan pencernaan atau mual.
-          Seluruh tubuh : berkeringat atau kepala terasa ringan.
-          Denyut jantung cepat atau nafas pendek.

4.       Penjegahan PJK

Gaya hidup sehat:

-          Minum air putih 8 gelas sehari.
-          Menghindari makanan dari jenis makanan yang berlemak, bersantan,tinggi kolestrol
-          Tidak merokok dan minum minuman keras/beralkohol.
-          Jalani pola makan sehat dengan konsumsi buah-buahan serta sayuran, dan kurangi makanan berlemak.
-          Tetap tenang dan hindari stres.
-          Melibatkan diri dalam kegiatan yang sehat untuk mengurangi stres.
Kontrol kesehatan :
-          Tekanan darah dan kadar gula darah : Harus dipantau dan dijaga pada tingkatan yang wajar. Penderita hipertensi atau diabetes harus mengikuti saran pengobatan dari dokter secara ketat.
-          Kadar kolesterol : Harus dikendalikan melalui pola makan dan olahraga secara sederhana. Orang dengan kadar kolesterol yang tinggi harus berkonsultasi dengan dokter dan mungkin harus mengkonsumsi obat-obatan.
-          Berat : Berbagai penelitian medis telah membuktikan bahwa obesitas meningkatkan resiko penyakit jantung koroner. Indeks masa tumbuh (IMT/BMI – Body Mass Index) merupakan standar yang diakui secara internasional dan objektif untuk mengukur obesitas. Secara umum kisaran normal IMT untuk orang asia dewasa adalah 18,5 – 22,9. Kita harus menjaga berat badan yang sehat dengan cara menjaga pola makan dan olahraga secara teratur.

5.       Diagnosis PJK
-          Elektrokardiografi (EKG)
EKG bertujuan merekam aktivitas listrik jantung pasien. Melalui EKG, dokter dapat mengetahui apakah pasien pernah atau sedang mengalami serangan jantung. EKG juga dapat membantu dokter mengetahui detak dan irama jantung pasien tergolong normal atau tidak.
Pada sejumlah kasus, dokter akan menyarankan pasien menjalani Holter monitoring. Sama seperti EKG, pemeriksaan ini bertujuan merekam aktivitas listrik jantung. Bedanya, pasien akan memakai perangkat kecil yang disebut monitor Holter. Alat tersebut akan dikalungkan di dada pasien, selama pasien beraktivitas dalam 24 jam.
-          Foto Rontgen
Foto Rontgen di bagian dada dapat dilakukan guna melihat kondisi jantung, paru-paru, dan pembuluh darah. Melalui foto Rontgen dada, dokter dapat mengetahui bila ukuran jantung membesar atau terdapat gangguan pada paru-paru.
-          CT scan dan MRI scan
Dua tes pencitraan ini dapat dilakukan untuk melihat kondisi jantung dengan lebih detail, yang tidak dapat terlihat pada pemeriksaan foto Rontgen. Pemeriksaan ini juga bisa memperlihatkan bila ada penumpukan kalsium di pembuluh darah, yang dapat memicu penyakit jantung koroner.
-          Uji tekanan (stress test)
Bila gejala yang dialami pasien lebih sering muncul saat sedang beraktivitas, dokter akan menyarankan uji tekanan. Tes ini bertujuan mengukur kerja jantung pasien ketika beraktivitas.
Dalam uji tekanan, pasien akan diminta berjalan di treadmill, atau mengayuh sepeda statis, sambil menjalani pemeriksaan EKG di saat yang bersamaan. Pada saat pasien tidak dapat beraktivitas, dokter akan memberi obat untuk meningkatkan detak jantung sambil menjalankan tes MRI.
-          Ekokardiografi
Ekokardiografi adalah pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara (seperti USG), untuk menampilkan gambaran jantung pasien di monitor. Selama ekokardiografi dilakukan, dokter dapat memeriksa, apakah semua bagian dinding jantung berfungsi baik dalam memompa darah.
Dinding jantung yang bergerak lemah, bisa disebabkan oleh kekurangan oksigen, atau adanya kerusakan akibat serangan jantung. Hal tersebut bisa menjadi tanda PJK.
-          Pemeriksaan enzim jantung
Pemeriksaan enzim jantung dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, untuk diperiksa di laboratorium. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mengetahui kadar troponin T dalam darah pasien.
Troponin adalah protein yang dihasilkan sel jantung yang mengalami kerusakan. Pada seseorang yang terkena serangan jantung, kadar troponin akan meningkat dalam 3-12 jam setelahnya. Kadar troponin akan mencapai puncaknya dalam 1-2 hari, dan kembali normal setelah 5-14 hari.
Kadar troponin terkait secara langsung dengan tingkat kerusakan otot jantung. Dengan kata lain, makin tinggi kadar troponin dalam darah, makin parah pula kerusakan jantung yang dialami.
-          Pemeriksaan radionuklir
Pemeriksaan radionuklir digunakan untuk membantu mengukur aliran darah ke otot jantung, saat beristirahat dan saat beraktivitas. Tes ini hampir sama seperti uji tekanan, yaitu dengan meminta pasien berjalan di treadmill atau mengayuh sepeda statis. Bedanya, tes ini dapat menunjukkan informasi yang lebih lengkap dengan menampilkan gambar jantung pasien.
Sebelum tes dilakukan, pasien akan disuntikkan zat radioaktif yang disebut isotop. Bila pasien tidak dapat berjalan di treadmill atau menggunakan sepeda statis, dokter akan memberikan obat untuk meningkatkan detak jantung pasien. Kemudian, kamera akan diarahkan ke dada pasien, dan menangkap gambar saat isotop mengalir ke jantung.
-          Kateterisasi jantung dan angiografi koroner
Katerisasi jantung bertujuan untuk melihat kondisi jantung, dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di lengan atau paha untuk diarahkan ke jantung. Kemudian, dokter akan menjalankan prosedur angiografi koroner. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan cairan kontras, dan menggunakan foto Rontgen untuk melihat aliran darah menuju jantung. Melalui angiografi koroner, dokter dapat mengetahui bila ada penyumbatan di pembuluh darah.

6.       Pengobatan PJK

Obat-obatan penurun kolesterol, termasuk statin, niasin, dan fibrat. Obat-obatan ini membantu mengurangi kadar kolesterol darah sehingga mengurangi jumlah lemak yang menempel pada pembuluh.
-          Aspirin : Aspirin atau pengencer darah lainnya membantu untuk melarutkan darah yang tersumbat, dan mencegah risiko stroke atau infark miokard. Namun dalam beberapa kasus, aspirin mungkin bukan pilihan yang baik. Beri tahu dokter jika Anda menderita gangguan pembekuan darah.
-          Beta blockers : Beta blockers menurunkan tekanan darah dan mencegah risiko infark miokard.
-          Nitrogliserin dan inhibitor enzim yang mengubah angiotensin: Obat ini dapat membantu mencegah risiko infark miokard.
-          Diuretik : Obat-obatan ini bisa mengurangi volume sirkulasi darah dengan menghilangkan natrium dan air sehingga bisa mengurangi beban kerja jantung.
-          Penghambat enzim konversi angiostensin (ACEI – Angiostensin-Converting-Enzyme Inhibitors) : Obat-obatan ini berfungsi untuk menurunkan tekanan darah. Digunakan untuk memperlambat perkembangan komplikasi penyakit jantung koroner.
-          Vasodilator : Untuk melebarkan pembuluh darah dan membantu meringankan beban kerja jantung. Tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet sublingual, spary, dan patch.
-           Operasi
 Pemasangan stent untuk memperlebar arteri koroner yang menyempit.
Bedah koroner seperti operasi bypass jantung adalah pengobatan yang paling umum untuk PJK. Dokter juga dapat melakukan angioplasty jika diperlukan.
-          Pengobatan di rumah
1.Mengatur pola makanan sehat seimbang: banyak mengonsumsi buah dan sayuran, mengonsumsi produk susu rendah lemak dan mengurangi makanan berlemak lainnya.
2.Konsumsi obat sesuai perintah dokter.
3.Kurangi asupan garam.
4.Berolahraga secara teratur, seperti jalan singkat selama 30 menit per hari. Konsultasikan dengan ahli kebugaran tubuh atau dokter untuk menentukan olahraga apa yang tepat bagi jantung Anda.
5.Selalu mempertahankan berat badan yang sehat.

7.       Penanganan PJK

-          Rutin mengonsumsi obat yang diresepkan dokter spesialis jantung pada tahap awal sakit.
-          Penanganan Stent, yakni melalui operasi jika kondisi pembuluh darah jantung tersumbat dan tidak diobati dengan obat oral.
-          Pengobatan jangka panjang rutin dan tidak boleh berhenti hingga kondisi jantung membaik.
-          Operasi By Pass Jantung (cangkok jantung) jika kondisi darurat, dimana jantung sudah tidak lagi berfungsi optimal dan perlu diganti dengan jantung baru yang sehat.

8.       Komplikasi PJK

-          Nyeri di dada : Hal ini terjadi ketikan penyempitan arteri koroner menjadi lebih parah dan mempengaruhi pasokan oksigen ke otot-otot jantung, terutama selama dan setelah olahraga berat.
-          Serangan jantung : Hal ini terjadi ketika aliran darah benar-benar terhalang sepenuhnya. Kekurangan darah dan oksigen akan menyebabkan kerusakan permanen pada otot jantung dan perawatan darurat segera diperlukan.
-          Gagal jantung : Jika beberapa area otot jantung kekurangan pasokan darah atau rusak setelah terjadinya serangan jantung, maka jantung tidak akan bisa memompa darah melalui pembuluh darah ke bagian tubuh lainnya. Hal ini akan mempengaruhi fungsi organ lain pada tubuh.
-          Aritmia (irama jantung yang tidak normal) : Pasokan darah yang tidak memadai ke jantung bisa mengganggu impuls listrik jantung, sehingga mempengaruhi irama jantung.



Kelompok 4
 XI-7 MIPA
1.       Adinda Nur Indah Sari
2.       Farid Ramadhan
3.       Fida Eldilia
4.       Hanny Maulani
SMA Negeri 2 Tasikmalaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar