Jantung koroner

Salah
satu penyakit kardiovaskular saat ini yang merupakan salah satu penyebab utama
dan pertama kematian di negara maju dan berkembang adalah Jantung Koroner. Menurut statistik dunia 9,4 juta
kematian setiap tahun disebabkan leh penyakit kardiovaskuler dan 45%
kematian disebabkan oleh jantung koroner . Pada tahun 2010, secara global penyakit ini
akan menjadi penyebab kematian pertama di negara berkembang, menggantikan
kematian akibat infeksi. Diperkirakan bahwa diseluruh dunia, PJK pada tahun
2020 menjadi pembunuh pertama tersering yakni sebesar 36% dari seluruh kematian.
Diperkirakan angka tersebut akan meningkat hingga 23,3 juta pada tahun 2030.
Di Indonesia salah satu penyakit
kardiovaskular yang terus menerus menempati urutan pertama adalah penyakit
jantung koroner. Menurut survei Sample Registration
System angka
kematian penyakit jantung
koroner 12,9% dari seluruh kematian.6 Prevalensi penyakit jantung
koroner berdasarkan
diagnosis dokter yang dilakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013
sebesar 0,5% sedangkan
berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5%. Hasil Riskesdas ini
menunjukkan penyakit
jantung koroner berada pada posisi ketujuh tertinggi
Kasus Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia
berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta
orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskular, sebanyak 6,7 juta
kematian disebabkan karena PJK. Di Indonesia, data Riskesdas 2013 menunjukkan
bahwa terdapat 1,5 persen kasus PJK di Indonesia. Angka ini termasuk yang
tertinggi di antara beberapa penyakit kardiovaskular lainnya.
Angka pasien penyakit jantung di Indonesia semakin
meningkat dan tidak mengenal usia. Terutama untuk pasien penderita serangan
jantung yang angka penderitanya semakin naik di tiap tahunnya. Sunanto, salah seorang dokter spesialis jantung dan
pembuluh darah Siloam Hospital pada Sabtu (6/4/2019) mengatakn “Indonesia soal
penyakit jantung sangat memprihatinkan.
1.
Pengertian
Nama lengkap dari Jantung koroner
sendiri adalah ”Penyakit Jantung Arteri
Koroner”. Arteri Koroner merupakan sistem pembuluh darah yang
memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung untuk menjaga fungsinya. Penyakit
ini disebut demikian karena sistem arteri berbentuk seperti korona. Penyakit jantung koroner ini disebabkan
karena arteri koroner nya menyempit atau
tersumbat sehingga aliran darah dari jantung akan berkurang dan kurangnya
pasokan oksigen ke otot-otot jantung
sehingga proses transportasi bahan-bahan energi akan terganggu.
Akibatnya sel-sel jantung melemah dan bahkan bisa mati.
2.
Penyebab
Penyakit jantung koroner (PJK)
-
Kebiasaan merokok
Sekitar 24% kematian akibat
PJK pada laki-laki dan 11% pada perempuan disebabkan kebiasaan merokok. Orang
yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok (perokok pasif) memiliki
peningkatan resiko sebesar 20-30%. Resiko terjadinya PJK akibat merokok
berkaitan dengan dosis dimana orang yang merokok 20 batang rokok atau lebih
dalam sehari memiliki resiko sebesar dua hingga tiga kali lebih tinggi
menderita PJK dari pada yang tidak merokok (Leatham, 2006). Setiap batang rokok
mengandung 4.800 jenis zat kimia, diantaranya karbon monoksida (CO), karbon
dioksida (CO2), hidrogen sianida, amoniak, oksida nitrogen, senyawa
hidrokarbon, nikotin, dan lain-lain.
Nikotin yang masuk dalam pembuluh darah akan merangsang katekolamin dan
bersama-sama zat kimia yang terkandung dalam rokok dapat merusak lapisan
dinding koroner. Nikotin berpengaruh pula terhadap syaraf simpatik sehingga
jantung berdenyut lebih cepat dan kebutuhan oksigen meninggi. Perokok beresiko
mengalami seranggan jantung karena perubahan sifat keping darah yang cenderung
menjadi lengket sehingga memicu terbentuknya gumpalan darah ketika dinding
koroner terkoyak (Yahya, 2010).
-
Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM)
berpotensi menjadi ancaman terhadap beberapa organ dalam tubuh termasuk
jantung. Keterkaitan diabetes mellitus dengan penyakit jantung sangatlah erat.
Resiko serangan jantung pada penderita DM adalah 2-6 kali lipat lebih tinggi
dibandingkan orang tanpa DM. Jika seorang penderita DM pernah mengalami
serangan jantung, resiko kematiannya menjadi tiga kali lipat lebih tinggi.
Peningkatan kadar gula darah dapat disebabkan oleh kekurangan insulin dalam
tubuh, insulin yang tidak cukup atau tidak bekerja dengan baik (Yahya, 2010).
-
Hipertensi (tekanan darah tinggi)
Hipertensi dapat menebalkan
dinding bilik kiri jantung yang akhirnya melemahkan fungsi pompa jantung
(Yahya, 2010). Resiko PJK secara langsung berhubungan dengan tekanan darah,
untuk setiap penurunan tekanan darah diastolik sebesar 5mmHg resiko PJK
berkurang sekitar 16% (Leatham, 2006).
-
Asterosklerosis
karena penumpukan kolesterol
Penyakit jantung koroner adalah
penyakit yang terjadi ketika arteri menjadi mengeras dan menyempit. Hal tersebu
disebabkan karena adanya penumpukan kolesterol dan bahan lainya yang disebut plak, pada dinding pembuluh darah. Penumpukan ini disebut asterosklorosis.
Seiiring berjalanya waktu, plak akakn semakin membesar sehingga aliran darah ke
otot jantung semakin sedikit dan semakin sulit. Akibatnya otot jantung tidak
bisa mendapatkan darah atau oksigen yang dibutuhkan.
-
Trombosis
Endapan lemak dan pengerasan pembuluh darah terganggu
dan lamakelamaan berakibat robek dinding
pembuluh darah. Pada mulanya, gumpalan darah
merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegahan perdarahan berlanjut pada saat terjadinya
luka. Berkumpulnya gumpalan darah dibagian
robek tersebut, yang kemudian bersatu dengan keping-keping darah menjadi trombus. Trombosis ini menyebabkan
sumbatan di dalam pembuluh darah
jantung, dapat menyebabkan serangan jantung mendadak, dan bila sumbatan terjadi di pembuluh darah otak
menyebabkan stroke (Kusrahayu, 2004).
3.
Gejala
PJK
-
Rasa nyeri di
dada yang tidak biasa
Tidak semua
nyeri di dada adalah gejala penyakit jantung, namun sudah sewajarnya setiap
nyeri di dada harus ditangani secara serius. Rasa nyeri akibat serangan jantung
ini cukup khas, yakni seolah dada mendapatkan tekanan beban yang berat dan
biasanya nyeri menghilang saat istirahat. Jika kondisi sudah berat atau parah,
rasa nyeri tersebut biasanya tidak akan berkurang atau hilang meski sudah
beristirahat.
-
Sering pusing
dan mudah lelah
Pusing
bisa jadi adalah efek dari fungsi jantung yang tidak normal. Biasanya pusing
akibat jantung ini biasanya terasa berbeda dibanding rasa pusing pada umumnya.
Sebab seringkali diikuti dengan perasaan mudah lelah akibat sirkulasi darah
terganggu.
-
Gastrointestinal
: gangguan pencernaan atau mual.
-
Seluruh tubuh
: berkeringat atau kepala terasa ringan.
-
Denyut
jantung cepat atau nafas pendek.
4.
Penjegahan
PJK
Gaya hidup sehat:
-
Minum air
putih 8 gelas sehari.
-
Menghindari
makanan dari jenis makanan yang berlemak, bersantan,tinggi kolestrol
-
Tidak merokok
dan minum minuman keras/beralkohol.
-
Jalani pola
makan sehat dengan konsumsi buah-buahan serta sayuran, dan kurangi makanan
berlemak.
-
Tetap tenang
dan hindari stres.
-
Melibatkan
diri dalam kegiatan yang sehat untuk mengurangi stres.
Kontrol
kesehatan :
-
Tekanan darah
dan kadar gula darah : Harus dipantau dan dijaga pada tingkatan yang wajar.
Penderita hipertensi atau diabetes harus mengikuti saran pengobatan dari dokter
secara ketat.
-
Kadar
kolesterol : Harus dikendalikan melalui pola makan dan olahraga secara
sederhana. Orang dengan kadar kolesterol yang tinggi harus berkonsultasi dengan
dokter dan mungkin harus mengkonsumsi obat-obatan.
-
Berat :
Berbagai penelitian medis telah membuktikan bahwa obesitas meningkatkan resiko
penyakit jantung koroner. Indeks masa tumbuh (IMT/BMI – Body Mass Index)
merupakan standar yang diakui secara internasional dan objektif untuk mengukur
obesitas. Secara umum kisaran normal IMT untuk orang asia dewasa adalah 18,5 –
22,9. Kita harus menjaga berat badan yang sehat dengan cara menjaga pola makan
dan olahraga secara teratur.
5.
Diagnosis
PJK
-
Elektrokardiografi
(EKG)
EKG bertujuan merekam aktivitas listrik jantung pasien. Melalui EKG,
dokter dapat mengetahui apakah pasien pernah atau sedang mengalami serangan jantung.
EKG juga dapat membantu dokter mengetahui detak dan irama jantung pasien
tergolong normal atau tidak.
Pada sejumlah kasus, dokter akan menyarankan pasien menjalani Holter
monitoring. Sama seperti EKG, pemeriksaan ini bertujuan merekam aktivitas listrik
jantung. Bedanya, pasien akan memakai perangkat kecil yang disebut monitor
Holter. Alat tersebut akan dikalungkan di dada pasien, selama pasien
beraktivitas dalam 24 jam.
-
Foto
Rontgen
Foto Rontgen di bagian dada dapat dilakukan guna melihat kondisi jantung,
paru-paru, dan pembuluh darah. Melalui foto Rontgen dada, dokter dapat
mengetahui bila ukuran jantung membesar atau terdapat gangguan pada paru-paru.
-
CT
scan dan MRI scan
Dua tes pencitraan ini dapat dilakukan untuk melihat kondisi jantung
dengan lebih detail, yang tidak dapat terlihat pada pemeriksaan foto Rontgen.
Pemeriksaan ini juga bisa memperlihatkan bila ada penumpukan kalsium di
pembuluh darah, yang dapat memicu penyakit jantung koroner.
-
Uji
tekanan (stress test)
Bila gejala yang dialami pasien lebih sering muncul saat sedang
beraktivitas, dokter akan menyarankan uji tekanan. Tes ini bertujuan mengukur
kerja jantung pasien ketika beraktivitas.
Dalam uji tekanan, pasien akan diminta berjalan di treadmill, atau
mengayuh sepeda statis, sambil menjalani pemeriksaan EKG di saat yang
bersamaan. Pada saat pasien tidak dapat beraktivitas, dokter akan memberi obat
untuk meningkatkan detak jantung sambil menjalankan tes MRI.
-
Ekokardiografi
Ekokardiografi adalah pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara
(seperti USG), untuk menampilkan gambaran jantung pasien di monitor. Selama
ekokardiografi dilakukan, dokter dapat memeriksa, apakah semua bagian dinding
jantung berfungsi baik dalam memompa darah.
Dinding jantung yang bergerak lemah, bisa disebabkan oleh kekurangan
oksigen, atau adanya kerusakan akibat serangan jantung. Hal tersebut bisa
menjadi tanda PJK.
-
Pemeriksaan
enzim jantung
Pemeriksaan enzim jantung dilakukan dengan mengambil sampel darah
pasien, untuk diperiksa di laboratorium. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat
mengetahui kadar troponin T dalam darah pasien.
Troponin adalah protein yang dihasilkan sel jantung yang mengalami
kerusakan. Pada seseorang yang terkena serangan jantung, kadar troponin akan
meningkat dalam 3-12 jam setelahnya. Kadar troponin akan mencapai puncaknya
dalam 1-2 hari, dan kembali normal setelah 5-14 hari.
Kadar troponin terkait secara langsung dengan tingkat kerusakan otot
jantung. Dengan kata lain, makin tinggi kadar troponin dalam darah, makin parah
pula kerusakan jantung yang dialami.
-
Pemeriksaan
radionuklir
Pemeriksaan radionuklir digunakan untuk membantu mengukur aliran darah
ke otot jantung, saat beristirahat dan saat beraktivitas. Tes ini hampir sama
seperti uji tekanan, yaitu dengan meminta pasien berjalan di treadmill atau
mengayuh sepeda statis. Bedanya, tes ini dapat menunjukkan informasi yang lebih
lengkap dengan menampilkan gambar jantung pasien.
Sebelum tes dilakukan, pasien akan disuntikkan zat radioaktif yang
disebut isotop. Bila pasien tidak dapat berjalan di treadmill atau menggunakan
sepeda statis, dokter akan memberikan obat untuk meningkatkan detak jantung
pasien. Kemudian, kamera akan diarahkan ke dada pasien, dan menangkap gambar
saat isotop mengalir ke jantung.
-
Kateterisasi
jantung dan angiografi koroner
Katerisasi jantung bertujuan untuk melihat kondisi jantung, dengan
memasukkan kateter melalui pembuluh darah di lengan atau paha untuk diarahkan
ke jantung. Kemudian, dokter akan menjalankan prosedur angiografi koroner.
Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan cairan kontras, dan menggunakan foto
Rontgen untuk melihat aliran darah menuju jantung. Melalui angiografi koroner,
dokter dapat mengetahui bila ada penyumbatan di pembuluh darah.
6.
Pengobatan
PJK
Obat-obatan penurun kolesterol,
termasuk statin, niasin, dan fibrat. Obat-obatan ini membantu mengurangi kadar
kolesterol darah sehingga mengurangi jumlah lemak yang menempel pada pembuluh.
-
Aspirin :
Aspirin atau pengencer darah lainnya membantu untuk melarutkan darah yang
tersumbat, dan mencegah risiko stroke atau infark miokard. Namun dalam beberapa
kasus, aspirin mungkin bukan pilihan yang baik. Beri tahu dokter jika Anda
menderita gangguan pembekuan darah.
-
Beta blockers
: Beta blockers menurunkan tekanan darah dan mencegah risiko infark miokard.
-
Nitrogliserin
dan inhibitor enzim yang mengubah angiotensin: Obat ini dapat membantu mencegah
risiko infark miokard.
-
Diuretik :
Obat-obatan ini bisa mengurangi volume sirkulasi darah dengan menghilangkan
natrium dan air sehingga bisa mengurangi beban kerja jantung.
-
Penghambat
enzim konversi angiostensin (ACEI – Angiostensin-Converting-Enzyme Inhibitors)
: Obat-obatan ini berfungsi untuk menurunkan tekanan darah. Digunakan untuk
memperlambat perkembangan komplikasi penyakit jantung koroner.
-
Vasodilator :
Untuk melebarkan pembuluh darah dan membantu meringankan beban kerja jantung.
Tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet sublingual, spary, dan patch.
-
Operasi
Pemasangan stent untuk memperlebar arteri
koroner yang menyempit.
Bedah koroner
seperti operasi bypass jantung adalah pengobatan yang paling umum untuk PJK.
Dokter juga dapat melakukan angioplasty jika diperlukan.
-
Pengobatan di
rumah
1.Mengatur pola makanan sehat
seimbang: banyak mengonsumsi buah dan sayuran, mengonsumsi produk susu rendah
lemak dan mengurangi makanan berlemak lainnya.
2.Konsumsi obat sesuai perintah
dokter.
3.Kurangi asupan garam.
4.Berolahraga secara teratur,
seperti jalan singkat selama 30 menit per hari. Konsultasikan dengan ahli
kebugaran tubuh atau dokter untuk menentukan olahraga apa yang tepat bagi
jantung Anda.
5.Selalu mempertahankan berat
badan yang sehat.
7.
Penanganan
PJK
-
Rutin
mengonsumsi obat yang diresepkan dokter spesialis jantung pada tahap awal
sakit.
-
Penanganan
Stent, yakni melalui operasi jika kondisi pembuluh darah jantung tersumbat dan
tidak diobati dengan obat oral.
-
Pengobatan
jangka panjang rutin dan tidak boleh berhenti hingga kondisi jantung membaik.
-
Operasi By
Pass Jantung (cangkok jantung) jika kondisi darurat, dimana jantung sudah tidak
lagi berfungsi optimal dan perlu diganti dengan jantung baru yang sehat.
8.
Komplikasi
PJK
-
Nyeri di dada
: Hal ini terjadi ketikan penyempitan arteri koroner menjadi lebih parah dan
mempengaruhi pasokan oksigen ke otot-otot jantung, terutama selama dan setelah
olahraga berat.
-
Serangan
jantung : Hal ini terjadi ketika aliran darah benar-benar terhalang sepenuhnya.
Kekurangan darah dan oksigen akan menyebabkan kerusakan permanen pada otot
jantung dan perawatan darurat segera diperlukan.
-
Gagal jantung
: Jika beberapa area otot jantung kekurangan pasokan darah atau rusak setelah
terjadinya serangan jantung, maka jantung tidak akan bisa memompa darah melalui
pembuluh darah ke bagian tubuh lainnya. Hal ini akan mempengaruhi fungsi organ
lain pada tubuh.
-
Aritmia
(irama jantung yang tidak normal) : Pasokan darah yang tidak memadai ke jantung
bisa mengganggu impuls listrik jantung, sehingga mempengaruhi irama jantung.
Kelompok 4
XI-7 MIPA
1.
Adinda Nur
Indah Sari
2.
Farid
Ramadhan
3.
Fida Eldilia
4.
Hanny Maulani
SMA Negeri 2 Tasikmalaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar