Kamis, 24 Oktober 2019

Luka Kecil Berujung Kematian


LUKA KECIL

B
lood disorder atau penyakit kelainan darah adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau beberapa bagian darah sehingga memengaruhi jumlah dan fungsinya yang disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Kelainan darah bisa bersifat akut maupun kronis. Darah mengandung zat cair dan zat padat. Bagian yang bersifat cair disebut plasma darah. Lebih dari setengah bagian darah merupakan plasma darah. Sedangkan bagian yang bersifat padat merupakan sel-sel darah yang terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit).

Sistem peredaran darah berfungsi mengangkut makanan dan zat sisa hasil metabolisme. Sistem peredaran darah manusia terdiri dari darah, jantung, dan pembuluh darah. Sistem peredaran darah dapat mengalami gangguan (penyakit) dan kelainan bawaan (faktor genetis). Gangguan atau kelainan peredaran darah manusia dapat dikelompokkan menjadi kelainan pada darah dan kelainan pada pembuluh darah. Berbagai masalah yang terjadi pada Pembuluh Darah disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Sistem peredaran darah terdiri atas jaringan dari organ, darah, dan pembuluh darah. Organ dan pembuluh darah bertanggung jawab untuk mengalirkan darah yang berisi, nutrisi, oksigen, hormon dan gas-gas lain menuju sel.

Ada beberapa penyebab utama gangguan darah, di antaranya:

1Keturunan
Penyakit gangguan darah dapat berasal dalam keluarga. Ini berarti jika orangtua atau saudara kandung memiliki kelainan darah, kemungkinan akan mengalami hal yang serupa.

2.  Penyakit tertentu
Misalnya, polisitemia vera (sebuah kondisi genetik) dapat menyebabkan tubuh menghasilkan terlalu banyak sel darah merah. Bisa juga karena memiliki penyakit autoimun seperti lupus. Sistem kekebalan tubuh mungkin menghancurkan trombosit darah Anda sendiri, yang membuat tubuh kesulitan untuk menghentikan perdarahan ketika terluka.

3.  Infeksi
Beberapa infeksi dapat mengurangi jumlah sel darah putih dari darah. Meski begitu, terkadang infeksi juga bisa meningkatkan produksi sel darah putih dalam tubuh.

4.  Kekurangan gizi
Asupan nutrisi yang buruk juga bisa menyebabkan gangguan darah. Contohnya, jika kekurangan zat besi, maka tubuh tidak bisa memproduksi sel darah merah yang cukup. Akibatnya, akan lebih rentan mengalami penyakit anemia.

Pengobatan untuk mengatasi penyakit kelainan darah hal pertama yang akan dilakukan dokter untuk mengatasi gangguan darah yang dialami adalah memeriksa riwayat medis dan kondisi pasien secara umum. Setelah itu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk memantabkan diagnosis.

Dokter dapat menyarankan kombinasi perawatan untuk membantu memperbaiki gangguan sel darah. Jika kondisi tidak parah, mungkin hanya akan diberi obat-obatan tertentu untuk meringankan gejala yang dikeluhkan. Sementara dalam kasus ketika obat tidak bekerja dengan baik, pasien mungkin akan dianjurkan untuk melakukan transplantasi sumsum tulang. Prosedur tersebut dapat memperbaiki atau mengganti sumsum tulang yang rusak, sehingga bisa kembali berfungsi lagi dengan baik. Selain itu, transfusi darah adalah pilihan lain untuk membantu mengganti sel-sel darah yang hilang atau rusak. Selama transfusi darah, pasien menerima infus darah yang sehat dari donor.

Guna mengetahui penyebab gangguan darah yang dialami, dokter biasanya akan menganjurkan untuk melakukan beberapa tes di bawah ini.

1.  Hitung darah perifer lengkap

Hitung darah perifer lengkap adalah tes yang paling umum untuk gangguan darah. Prosedur ini berfungsi untuk mengevaluasi semua komponen seluler (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit) dalam darah.
Mesin otomatis dapat melakukan tes ini dalam waktu kurang dari 1 menit pada sejumlah kecil darah. Prosedur ini dalam beberapa kasus juga dilengkapi dengan pemeriksaan sel darah di bawah mikroskop.

2.  Penghitungan retikulosit

Penghitungan retikulosit berfungsi untuk mengukur jumlah sel darah merah (eritrosit) yang baru terbentuk dalam volume tertentu darah. Retikulosit biasanya menempati sekitar 1% dari total jumlah sel darah merah.
Jika tubuh membutuhkan lebih banyak sel darah merah, seperti pada anemia, sumsum tulang biasanya merespon dengan memproduksi lebih banyak retikulosit. Dengan demikian, jumlah retikulosit adalah ukuran kapasitas dari sumsum tulang untuk membuat sel darah merah baru.

3.  Tes khusus sel-sel darah

Para dokter dapat mengukur proporsi jenis sel darah putih dan kemampuan sel darah putih untuk melawan infeksi. Sebagian besar tes dilakukan pada sampel darah, tetapi beberapa memerlukan sampel dari sumsum tulang.

4.  Tes pembekuan mencakup berbagai jenis tes

Beberapa tes pembekuan dapat menghitung jumlah trombosit dalam darah Anda. Trombosit bertanggung jawab untuk mengontrol perdarahan. Kadang-kadang dokter perlu menguji seberapa baik trombosit bekerja. Tes-tes lain dapat mengukur fungsi keseluruhan dari protein yang dibutuhkan untuk pembekuan darah normal.

5.  Pengukuran protein dan zat lainnya

Tes ini dilakukan pada sampel urin. Urin mengandung sejumlah kecil protein. Dengan mengukur protein ini, dokter dapat mendeteksi kelainan pada kuantitas atau struktur urin.

 Kelainan darah dapat diatasi dengan banyak cara. Jika menemukan gejala apapun, penderita harus mengunjungi dokter untuk didiagnosis dan diobati dini, sehingga dapat memperoleh hasil yang terbaik. Menerapkan pola makan yang sehat, olahraga secara teratur, berhenti merokok dan minum minuman beralkohol mungkin dapat membantu mengurangi risiko terkena gangguan darah. Jika kelainan darah terjadi pada orang tua penderita, penderita perlu konsultasi dengan dokter untuk mendiskusikan kemungkinan memilikinya juga di kemudian hari.

Hipertensi adalah penyakit yang paling banyak diidap masyarakat. Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) merupakan masalah kesehatan utama di negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat. ''Hipertensi sekarang jadi masalah utama kita semua, tidak hanya di Indonesia tapi di dunia, karena hipertensi ini merupakan salah satu pintu masuk atau faktor risiko penyakit seperti jantung, gagal ginjal, diabetes, stroke,'' kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kemenkes RI, dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes, pada Temu Media memperingati Hari Hipertensi Dunia 2019 di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jumat (17/5).

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2017 menyatakan tentang faktor risiko penyebab kematian prematur dan disabilitas di dunia berdasarkan angka Disability Adjusted Life Years (DAILYs) untuk semua kelompok umur. Berdasarkan DAILYs tersebut, tiga faktor risiko tertinggi pada laki-laki yaitu merokok, peningkatan tekanan darah sistolik, dan peningkatan kadar gula. Sedangkan faktor risiko pada wanita yaitu peningkatan tekanan darah sistolik, peningkatan kadar gula darah dan IMT tinggi.

Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, Hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor 5 (lima) pada semua umur. Sedangkan berdasarkan data International Health Metrics Monitoring and Evaluation (IHME) tahun 2017 di Indonesia, penyebab kematian pada peringkat pertama disebabkan oleh Stroke, diikuti dengan Penyakit Jantung Iskemik, Diabetes, Tuberkulosa, Sirosis , diare, PPOK, Alzheimer, Infeksi saluran napas bawah dan Gangguan neonatal serta kecelakaan lalu lintas.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan menyebutkan bahwa biaya pelayanan hipertensi mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu pada tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun rupiah, tahun 2017 dan tahun 2018 sebesar 3 Triliun rupiah. Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua sebesar (22,2%). Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%).


HEMOFILIA
Penyakit kelainan pada darah ada banyak jenisnya. Begitupun gejala, penyebab, dan pengobatannya berbeda beda setiap penyakitnya. Penyakit yang akan dijelaskan pada artikel ini adalah Hemofilia. Hemofilia adalah suatu  penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh mengalami luka.
Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar platelet (sel darah) sehingga dapat membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut mengakibatkan perdarahan terjadi secara berkepanjangan. Hemofilia merupakan penyakit bawaan yang umumnya dialami pria. Penyakit ini dapat diturunkan karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA (kromosom) sehingga membuat proses dalam tubuh tidak berjalan dengan normal. Mutasi gen ini dapat berasal dari ayah, ibu, atau kedua orang tua. Terdapat banyak jenis hemofilia, namun jenis yang paling banyak terjadi adalah hemofilia A dan B. Tingkat keparahan yang dialami penderita hemofilia tergantung dari jumlah faktor pembekuan dalam darah. Semakin sedikit jumlah faktor pembekuan darah, semakin parah hemofilia yang diderita. Meski tidak ada obat yang dapat menyembuhkan hemofilia, penderitanya dapat hidup dengan normal selama penanganan gejala dilakukan dan menghindarkan diri dari semua kondisi yang memicu perdarahan.


A

 pa Saja Jenis Jenis dari Hemofilia?
  Hemofilia terdiri dari 2 jenis yang sering dialami, yaitu

Hemofilia A
Hemofilia tipe A sering juga disebut sebagai hemofilia klasik atau hemofilia yang “didapat” karena tidak disebabkan oleh faktor genetik. Hemofilia tipe pertama ini terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembeku darah VIII yang umumnya terkait dengan kehamilan, kanker, penggunaan obat-obatan tertentu, juga berkaitan dengan penyakit seperti lupus dan rheumatoid arthritis. Tipe hemofilia A termasuk langka dan sangat berbahaya.

Hemofilia B
Berbeda dengan hemofilia A, hemofilia B terjadi karena tubuh kekurangan faktor pembeku darah  IX. Kondisi ini biasanya diwariskan oleh ibu, tapi bisa juga terjadi ketika gen berubah atau bermutasi sebelum bayi dilahirkan. Hemofilia B cenderung lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.  Dilansir dari Medical News Today, sekitar 1 dari 5.000 bayi laki-laki yang lahir mengalami hemofilia A. Sekitar 1 dari 30.000 bayi laki-laki mengalami hemofilia B. Jadi, penyakit hemofilia A sebenarnya lebih umum daripada hemofilia B.


 Cara Untuk Mengobatinya 

Kebanyakan kasus hemofilia adalah kondisi genetik. Maka, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendiagnosisnya. Setelah pemeriksaan fisik dasar, hemofilia bisa didiagnosis dengan tes darah untuk kemudian dicari tahu faktor pembekuan darah mana yang kurang jumlahnya. Cara ini juga dapat memberi tahu dokter hemofilia tipe apa yang dimiliki oleh pasiennya.
Dari sampel darah akan diketahui juga tingkat keparahan gejala, seperti:
1.  Hemofilia ringan ditunjukkan dengan faktor pembekuan dalam plasma di antara 5 sampai 40 persen.
2.  Hemofilia sedang ditandai dengan faktor pembekuan dalam plasma sekitar 1 sampai 5 persen.
3.  Hemofilia berat diidnikasi dengan faktor pembekuan dalam plasma kurang dari 1 persen.

Tanda-tanda dan gejala hemofilia pada setiap orang berbeda-beda, tergantung pada jumlah faktor pembeku dalam darah. Pada orang dengan gangguan pembekuan darah ringan, gejala perdarahan biasanya hanya akan muncul ketika mengalami cedera/luka dan setelah operasi. Sementara orang dengan gangguan pembekuan darah berat mungkin akan lebih sering mengalami perdarahan tanpa alasan, yang sering disebut sebagai perdarahan spontan.

Secara umum, tanda dan gejala hemofilia adalah:
1.  Mudah memar.
2.  Gusi berdarah.
3.  BAB berdarah.
4.  Kencing berdarah
5.  Muntah darah
6.  Sering mimisan
7.  Nyeri sendi
8.  Mati rasa
9.  Kerusakan sendi

Segera konsultasi ke dokter terutama jika menemukan gejala khas, yaitu bagian tubuh mudah memar dan perdarahan yang sulit dihentikan. Mungkin ada beberapa tanda atau gejala hemofilia yang tidak disebutkan. Jika Anda khawatir tentang gejala hemofilia, silakan konsultasikan dengan dokter.
Segera hubungi dokter atau pergi ke rumah sakit terdekat jika mengalami tanda dan gejala berikut ini:
1.  Sakit kepala parah
2.  Muntah berulang kali
3.  Sakit leher
4.  Pandangan buram
5.  Perdarahan besar yang tidak bisa dihentikan setelah cedera
6.  Sendi bengkak yang terasa panas jika disentuh dan sangat sakit ketika ditekuk

Pasein hemofilia dapat mencegah perdarahan dan mengurangi gejala lainnya dengan obat-obatan. Untuk hemofilia A, dokter akan memberikan hormon desmopressin yang disuntikkan ke pembuluh darah. Kemudian, untuk hemofilia B, dokter akan memberikan partikel pembekuaan darah sintesis. Ini disebut juga dengan faktor pembekuan rekombinan. Sementara untuk kondisi lebih parah, yaitu hemofilia C, pasien harus menggunakan infus plasma. Selain itu, pasien dapat mengikuti terapi fisik jika ada sendi-sendi yang rusak.

Penyakit hemofilia tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikurangi gejala keparahannya dengan obat-obatan. Dilansir dari Medical News Today, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. K. John Pasi, seorang direktur Haemophilia Center di Barts Health NHS Trust dan rekannya sedang melakukan pengembangan pengobatan untuk menyembuhkan pasein hemofilia. Para peneliti berpendapat bahwa pengobatan berupa terapi gen memiliki kemungkinan untuk memperbaiki kesalahan genetik pada pasien hemofilia.

Dalam penelitian tersebut, dilakukan uji coba penyuntikkan terapi gen pada 13 orang dengan hemofilia A. Selama satu tahun, hasil uji coba menunjukkan bahwa semua pasien mampu menghentikan pengobatan hemofilia yang sebelumnya mereka lakukan dan pembekuan darah mereka hampir mendekati tingkat normal. Sayangnya, terapi gen ini belum benar-benar disempurnakan sehingga belum bisa digunakan untuk menyembuhkan pasien hemofilia sepenuhnya.

Cara yang kedua adalah transplantasi hati. Transplantasi hati ini merupakan cara kedua untuk solusi penyakit hemofilia. Mengapa hati? Karena faktor pembekuan yang telah hilang seharusnya diproduksi di hati maka dari itu jika mengganti organ hati yang tidak memiliki gen pembentuk faktor pembekuan dengan organ hati baru yang memiliki gen normal lengkap akan menjadikan penderita dapat kembali memproduksi faktor pembekuan yang hilang. Namun, transplantasi hati terlalu beresiko untuk digunakan sebagai solusi obat hemofilia. Cara ini hanya dilakukan jika sudah sangat mendesak dan penderita dalam keadaan parah.


Untuk pengobatan terakhir adalah Desmopressin (DDAVP) yang merupakan hormon buatan manusia. Namun DDVAP ini hanya mampu meringankan hemofilia A ringan, tidak bisa membantu meringankan hemofilia A berat maupun hemofilia B. DDAVP diberikan dengan cara menyuntikan pada saluran infus maupun dengan menggunakan semprot hidung. DDAVP merangsang pelepasan faktor pemebekuan VIII dan juga akan meningkatkan kadar protein dalam darah. Namun obat ini tidak bisa digunakan setiap kali karena antibodi semakin lama akan semakin kuat bila obat ini digunakan terus menerus.

Apa Penyebabnya ?

Hemofilia adalah penyakit genetik yang diwariskan oleh orangtua. Penyakit ini disebabkan oleh kecacatan pada gen pembuat faktor pembekuan darah. Orang dengan penyakit ini tidak dapat memproduksi faktor VIII dan IX dalam jumlah yang cukup. Oleh sebab itu, ketika operasi atau ada luka terbuka, pasien akan sangat sulit untuk menghentikan perdarahan karena tubuh mereka tidak memproduksi cukup protein untuk penggumpalan darah.

Setiap orang mewarisi dua kromosom seks dari orangtua. Wanita memiliki dua kromosom X (XX), sementara pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Dalam banyak kasus, penyakit ini secara genetik diturunkan ke anak, biasanya karena ibu. Kondisi ini disebut kelainan genetik yang berkaitan dengan kromosom seks (kromosom X).

Jika wanita memiliki salah satu kromosom X dengan hemofilia, ia tidak akan terkena penyakit ini. Pasalnya, wanita dapat mengalami penyakit ini hanya bila kedua kromosom X membawa sifat hemofilia. Namun, wanita dapat menjadi pembawa gen penyakit ini dan menurunkannya pada anaknya, sedangkan ia sendiri tidak kena penyakit ini. Lain halnya dengan pria. Pria hanya punya satu kromosom X. Jadi, jika pria memiliki kromosom X dengan kelainan hemofilia, maka ia sangat mungkin akan terkena penyakit ini.


Komplikasi Hemofilia Jika Dibiarkan !

         Dalam beberapa kasus, hemofilia bisa menyebabkan berbagai komplikasi seperti kerusakan sendi, pendarahan internal ( pendarahan dalam otot ) dan akan membengkak yang menyebabkan kaku (mati rasa), pendarahan pada pencernaan sehingga darah akan muncul pada muntahan dan feses, hematuria, dll.


Cara Menangani Pendarahan Pada Penderita Hemofilia

 Pertama, istirahatkan sendi yang mengalami perdarahan. Lalu, letakkan lengan atau kaki yang mengalami perdarahan ke atas bantal. Namun yang perlu diingat, jangan menggerakan persendian yang terluka. Apalagi berjalan dengan kondisi seperti ini.

         Kedua, kompres luka dengan es. Letakkan kantong es di atas handuk basah ke bagian yang terluka kira-kira selama lima menit. Lalu, diamkan bagian yang terluka tanpa es selama 10 menit. Lakukan hal tersebut berulang-ulang selama bagian yang terluka masih terasa panas. Kata ahli, cara ini bisa meringankan rasa sakit, sekaligus memperlambat laju perdarahan.

       Selanjutnya, Berikan tekanan menggunakan perban elastis untuk membalut persendian yang terluka. Tekanan yang tak terlalu keras ini bisa memperlambat laju perdarahan dan menyokong persendian. Cara ini juga bisa digunakan pada perdarahan otot.

Posisikan area yang terluka di tempat yang lebih tinggi. Tujuannya untuk menurunkan tekanan di bagian yang terluka. Dengan begitu, laju keluarnya darah bisa melambat.



Hal Unik Untuk Penderita Hemofilia

        Menyambut World Hemophilia Day ke-29 yang jatuh pada 17 April 2019, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) meluncurkan aplikasi android Hemofilia Indonesia. Mengusung tema “Reaching Out, The Fisrt Step to Care”, peluncuran aplikasi ini bertujuan memudahkan pencatatan pasien hemofilia atau gangguan penggumpalan darah lain dalam sistem registrasi nasional. Dengan mengisi aplikasi dan mengirimkan datanya, individu akan secara otomatis terdaftar dalam sistem registrasi nasional sehingga mempermudah identifikasi dan penanganan medis, sekaligus perkembangan penyakit ke depannya. Menurut Ketua HMHI, Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp.A, pendataan hemofilia secara nasional itu sangat dibutuhkan, terutama untuk mengatasi kendala geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan serta memiliki penduduk yang berjumlah banyak. “Hingga saat ini, penderita hemofilia hanya tercatat sebanyak 2092 orang, sedangkan menurut statistik saja, setidaknya terdapat 20-25.000 penderita hemofilia di Indonesia, artinya baru 10% saja yang telah terdeteksi”, tuturnya saat acara peluncuran di Jakarta, Kamis (4/4/2019). Wakil Ketua HMHI, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp.A mengemukakan, rendahnya tingkat identifikasi penderita hemofilia salah satunya dipengaruhi stigma dan mitos yang beredar, membuat penderita cenderung menyembunyikan kondisinya.


Fakta Fakta Hemofilia

1.    Pria paling rentan

Sebagian besar penyandang Hemofilia adalah laki-laki. Dalam hal    ini, perempuan hanya bersifat sebagai pembawa dan penerus gen hemofilia.
Prof. Dr. dr Djajadiman Gatot Amelia C, Sp. A (K) dari Divisi Hematology Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-UI RSCM mengatakan, perempuan tidak bisa terdeteksi begitu saja karena hanya pembawa gen.
"Tipe A ditemukan lebih banyak dibandingkan tipe B, yaitu sekitar 80-85 persen dari total hemofilia. Kedua coding factor tersebut terdapat pada kromosom X. Untuk itu, hemofilia paling banyak diderita oleh pria, sebab pria hanya memiliki satu kromosom X," katanya.

2.    Dua tipe

Menurut Djajadiman, terdapat dua jenis hemofilia. Tipe A atau hemofilia klasik terjadi akibat kekurangan faktor VIII pembekuan darah. Sedangkan tipe B terjadi akibat kekurangan faktor IX.

3.    Jumlah penyandang Hemofilia A lebih banyak

     Djajadiman mengatakan, saat darurat, biasanya dokter akan memperkirakan tipe A dulu karena jumlahnya paling banyak. "Nanti kalau nggak berhasil, kita beralih ke B. Namun baik tipe A dan B sama parahnya."

4.    Perlu transfusi darah

Berbeda dengan penyakit ginjal, transfusi yang dilakukan oleh penyandang Hemofilia hanya menggunakan plasma darah.
"Transfusi plasma untuk penyandang hemofilia  diproses khusus. Maka itu biayanya mahal karena risiko pembentukan inhibitor (antibodi)," katanya.
Data World Federation of Hemophilia menunjukkan, 15-25 persen penyandang Hemofilia secara lambat laun akan membentuk antibodi terhadap pengobatannya. Di sisi lain, 3.500 penyandang hemofilia memiliki inhibitor sehingga menghambat kerja faktor VIII dan IX.

5.    Genetik

Hemofilia adalah penyakit genetik atau diturunkan dari orangtua, sehingga sudah terbentuk sejak seseorang dilahirkan. Hemofilia bukan penyakit menular. Kendati demikian, sekitar 30 persen penderita penyakit ini tidak mempunyai riwayat keluarga. Hal itu terjadi akibat mutasi genetika yang hingga kini belum diketahui penyebabnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar