LUKA
KECIL
BERUJUNG
KEMATIAN
B
|
lood disorder atau penyakit kelainan
darah adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau
beberapa bagian darah sehingga memengaruhi jumlah dan fungsinya yang disebabkan oleh faktor internal dan faktor
eksternal. Kelainan darah bisa bersifat akut maupun kronis. Darah
mengandung zat cair dan zat padat. Bagian yang bersifat cair disebut plasma
darah. Lebih dari setengah bagian darah merupakan plasma darah. Sedangkan
bagian yang bersifat padat merupakan sel-sel darah yang terdiri dari sel darah
merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit).
Sistem peredaran darah
berfungsi mengangkut makanan dan zat sisa hasil metabolisme. Sistem peredaran
darah manusia terdiri dari darah, jantung, dan pembuluh darah. Sistem peredaran
darah dapat mengalami gangguan (penyakit) dan kelainan bawaan (faktor genetis).
Gangguan atau kelainan peredaran darah manusia dapat dikelompokkan menjadi
kelainan pada darah dan kelainan pada pembuluh darah. Berbagai masalah yang
terjadi pada Pembuluh Darah disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang
tidak sehat. Sistem peredaran darah terdiri atas jaringan dari organ, darah,
dan pembuluh darah. Organ dan pembuluh darah bertanggung jawab untuk
mengalirkan darah yang berisi, nutrisi, oksigen, hormon dan gas-gas lain menuju
sel.
Ada beberapa penyebab utama
gangguan darah, di antaranya:
1. Keturunan
Penyakit gangguan darah
dapat berasal dalam keluarga. Ini berarti jika orangtua atau saudara kandung
memiliki kelainan darah, kemungkinan akan mengalami hal yang serupa.
2. Penyakit tertentu
Misalnya, polisitemia vera
(sebuah kondisi genetik) dapat menyebabkan tubuh menghasilkan terlalu banyak
sel darah merah. Bisa juga karena memiliki penyakit autoimun seperti lupus.
Sistem kekebalan tubuh mungkin menghancurkan trombosit darah Anda sendiri, yang
membuat tubuh kesulitan untuk menghentikan perdarahan ketika terluka.
3. Infeksi
Beberapa infeksi dapat
mengurangi jumlah sel darah putih dari darah. Meski begitu, terkadang infeksi
juga bisa meningkatkan produksi sel darah putih dalam tubuh.
4. Kekurangan gizi
Asupan nutrisi yang buruk
juga bisa menyebabkan gangguan darah. Contohnya, jika kekurangan zat besi, maka
tubuh tidak bisa memproduksi sel darah merah yang cukup. Akibatnya, akan lebih
rentan mengalami penyakit anemia.
Pengobatan untuk mengatasi
penyakit kelainan darah hal pertama yang akan dilakukan dokter untuk mengatasi
gangguan darah yang dialami adalah memeriksa riwayat medis dan kondisi pasien
secara umum. Setelah itu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium
untuk memantabkan diagnosis.
Dokter dapat menyarankan
kombinasi perawatan untuk membantu memperbaiki gangguan sel darah. Jika kondisi
tidak parah, mungkin hanya akan diberi obat-obatan tertentu untuk meringankan
gejala yang dikeluhkan. Sementara dalam kasus ketika obat tidak bekerja dengan
baik, pasien mungkin akan dianjurkan untuk melakukan transplantasi sumsum
tulang. Prosedur tersebut dapat memperbaiki atau mengganti sumsum tulang yang
rusak, sehingga bisa kembali berfungsi lagi dengan baik. Selain itu, transfusi
darah adalah pilihan lain untuk membantu mengganti sel-sel darah yang hilang
atau rusak. Selama transfusi darah, pasien menerima infus darah yang sehat dari
donor.
Guna mengetahui penyebab
gangguan darah yang dialami, dokter biasanya akan menganjurkan untuk melakukan
beberapa tes di bawah ini.
1. Hitung darah perifer lengkap
Hitung darah perifer
lengkap adalah tes yang paling umum untuk gangguan darah. Prosedur ini
berfungsi untuk mengevaluasi semua komponen seluler (sel darah merah, sel darah
putih, dan trombosit) dalam darah.
Mesin otomatis dapat
melakukan tes ini dalam waktu kurang dari 1 menit pada sejumlah kecil darah.
Prosedur ini dalam beberapa kasus juga dilengkapi dengan pemeriksaan sel darah
di bawah mikroskop.
2. Penghitungan retikulosit
Penghitungan retikulosit
berfungsi untuk mengukur jumlah sel darah merah (eritrosit) yang baru terbentuk
dalam volume tertentu darah. Retikulosit biasanya menempati sekitar 1% dari
total jumlah sel darah merah.
Jika tubuh membutuhkan
lebih banyak sel darah merah, seperti pada anemia, sumsum tulang biasanya
merespon dengan memproduksi lebih banyak retikulosit. Dengan demikian, jumlah
retikulosit adalah ukuran kapasitas dari sumsum tulang untuk membuat sel darah
merah baru.
3. Tes khusus sel-sel darah
Para dokter dapat mengukur
proporsi jenis sel darah putih dan kemampuan sel darah putih untuk melawan
infeksi. Sebagian besar tes dilakukan pada sampel darah, tetapi beberapa
memerlukan sampel dari sumsum tulang.
4. Tes pembekuan mencakup berbagai jenis tes
Beberapa tes pembekuan
dapat menghitung jumlah trombosit dalam darah Anda. Trombosit bertanggung jawab
untuk mengontrol perdarahan. Kadang-kadang dokter perlu menguji seberapa baik
trombosit bekerja. Tes-tes lain dapat mengukur fungsi keseluruhan dari protein
yang dibutuhkan untuk pembekuan darah normal.
5. Pengukuran protein dan zat lainnya
Tes ini dilakukan pada
sampel urin. Urin mengandung sejumlah kecil protein. Dengan mengukur protein ini,
dokter dapat mendeteksi kelainan pada kuantitas atau struktur urin.
Kelainan darah dapat
diatasi dengan banyak cara. Jika menemukan gejala apapun, penderita harus
mengunjungi dokter untuk didiagnosis dan diobati dini, sehingga dapat
memperoleh hasil yang terbaik. Menerapkan pola makan yang sehat, olahraga
secara teratur, berhenti merokok dan minum minuman beralkohol mungkin dapat
membantu mengurangi risiko terkena gangguan darah. Jika kelainan darah terjadi
pada orang tua penderita, penderita perlu konsultasi dengan dokter untuk
mendiskusikan kemungkinan memilikinya juga di kemudian hari.
Hipertensi adalah penyakit
yang paling banyak diidap masyarakat. Penyakit jantung dan pembuluh darah
(kardiovaskuler) merupakan masalah kesehatan utama di negara maju maupun negara
berkembang. Hipertensi menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap
tahunnya. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling
umum dan paling banyak disandang masyarakat. ''Hipertensi sekarang jadi masalah
utama kita semua, tidak hanya di Indonesia tapi di dunia, karena hipertensi ini
merupakan salah satu pintu masuk atau faktor risiko penyakit seperti jantung,
gagal ginjal, diabetes, stroke,'' kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kemenkes RI, dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes, pada
Temu Media memperingati Hari Hipertensi Dunia 2019 di Gedung Kementerian
Kesehatan RI, Jumat (17/5).
Data World Health
Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia
menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi.
Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada
tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan
setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.
Institute for Health
Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2017 menyatakan tentang faktor risiko
penyebab kematian prematur dan disabilitas di dunia berdasarkan angka
Disability Adjusted Life Years (DAILYs) untuk semua kelompok umur. Berdasarkan
DAILYs tersebut, tiga faktor risiko tertinggi pada laki-laki yaitu merokok,
peningkatan tekanan darah sistolik, dan peningkatan kadar gula. Sedangkan
faktor risiko pada wanita yaitu peningkatan tekanan darah sistolik, peningkatan
kadar gula darah dan IMT tinggi.
Menurut data Sample
Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, Hipertensi dengan komplikasi
(5,3%) merupakan penyebab kematian nomor 5 (lima) pada semua umur. Sedangkan
berdasarkan data International Health Metrics Monitoring and Evaluation (IHME)
tahun 2017 di Indonesia, penyebab kematian pada peringkat pertama disebabkan
oleh Stroke, diikuti dengan Penyakit Jantung Iskemik, Diabetes, Tuberkulosa,
Sirosis , diare, PPOK, Alzheimer, Infeksi saluran napas bawah dan Gangguan
neonatal serta kecelakaan lalu lintas.
Data Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan menyebutkan bahwa biaya pelayanan hipertensi
mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu pada tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun
rupiah, tahun 2017 dan tahun 2018 sebesar 3 Triliun rupiah. Berdasarkan Riskesdas
2018 prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18
tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan
terendah di Papua sebesar (22,2%). Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44
tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%).
HEMOFILIA
Penyakit kelainan pada darah ada banyak jenisnya. Begitupun
gejala, penyebab, dan pengobatannya berbeda beda setiap penyakitnya. Penyakit
yang akan dijelaskan pada artikel ini adalah Hemofilia. Hemofilia adalah
suatu penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan
faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh
mengalami luka.
Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah
membentuk jaring penahan di sekitar platelet (sel darah) sehingga dapat
membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita
hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut
mengakibatkan perdarahan terjadi secara berkepanjangan. Hemofilia merupakan
penyakit bawaan yang umumnya dialami pria. Penyakit ini dapat diturunkan karena
mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA (kromosom) sehingga
membuat proses dalam tubuh tidak berjalan dengan normal. Mutasi gen ini
dapat berasal dari ayah, ibu, atau kedua orang tua. Terdapat banyak jenis
hemofilia, namun jenis yang paling banyak terjadi adalah hemofilia A dan B.
Tingkat keparahan yang dialami penderita hemofilia tergantung dari
jumlah faktor pembekuan dalam darah. Semakin sedikit jumlah faktor
pembekuan darah, semakin parah hemofilia yang diderita. Meski tidak ada obat
yang dapat menyembuhkan hemofilia, penderitanya dapat hidup dengan normal
selama penanganan gejala dilakukan dan menghindarkan diri dari semua kondisi
yang memicu perdarahan.
A
|
pa Saja Jenis Jenis dari Hemofilia?
Hemofilia terdiri dari 2 jenis yang sering dialami, yaitu
Hemofilia A
Hemofilia tipe A sering juga disebut sebagai hemofilia klasik atau
hemofilia yang “didapat” karena tidak disebabkan oleh faktor genetik. Hemofilia
tipe pertama ini terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembeku darah VIII yang
umumnya terkait dengan kehamilan, kanker, penggunaan obat-obatan tertentu, juga
berkaitan dengan penyakit seperti lupus dan rheumatoid
arthritis. Tipe hemofilia A termasuk langka dan sangat berbahaya.
Hemofilia B
Berbeda dengan hemofilia A,
hemofilia B terjadi karena tubuh kekurangan faktor pembeku darah IX.
Kondisi ini biasanya diwariskan oleh ibu, tapi bisa juga terjadi ketika gen
berubah atau bermutasi sebelum bayi dilahirkan. Hemofilia B cenderung lebih
banyak terjadi pada anak perempuan dibanding anak
laki-laki. Dilansir dari Medical News Today, sekitar 1 dari
5.000 bayi laki-laki yang lahir mengalami hemofilia A. Sekitar 1 dari 30.000
bayi laki-laki mengalami hemofilia B. Jadi, penyakit hemofilia A sebenarnya
lebih umum daripada hemofilia B.
Cara Untuk Mengobatinya
Cara Untuk Mengobatinya
Kebanyakan kasus hemofilia
adalah kondisi genetik. Maka, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk
mendiagnosisnya. Setelah pemeriksaan fisik dasar, hemofilia bisa didiagnosis
dengan tes darah untuk kemudian dicari tahu faktor pembekuan darah mana yang
kurang jumlahnya. Cara ini juga dapat memberi tahu dokter hemofilia tipe apa
yang dimiliki oleh pasiennya.
Dari sampel darah akan
diketahui juga tingkat keparahan gejala, seperti:
1. Hemofilia
ringan ditunjukkan dengan faktor pembekuan dalam plasma di antara 5 sampai 40
persen.
2. Hemofilia
sedang ditandai dengan faktor pembekuan dalam plasma sekitar 1 sampai 5 persen.
3. Hemofilia
berat diidnikasi dengan faktor pembekuan dalam plasma kurang dari 1 persen.
Tanda-tanda dan gejala
hemofilia pada setiap orang berbeda-beda, tergantung pada jumlah faktor pembeku
dalam darah. Pada orang dengan gangguan pembekuan darah ringan, gejala
perdarahan biasanya hanya akan muncul ketika mengalami cedera/luka dan setelah
operasi. Sementara orang dengan gangguan pembekuan darah berat mungkin akan
lebih sering mengalami perdarahan tanpa alasan, yang sering disebut sebagai
perdarahan spontan.
Secara umum, tanda dan
gejala hemofilia adalah:
1. Mudah
memar.
2. Gusi
berdarah.
3. BAB
berdarah.
4. Kencing
berdarah
5. Muntah
darah
6. Sering
mimisan
7. Nyeri
sendi
8. Mati rasa
9. Kerusakan
sendi
Segera konsultasi ke dokter
terutama jika menemukan gejala khas, yaitu bagian tubuh mudah memar dan
perdarahan yang sulit dihentikan. Mungkin ada beberapa tanda atau gejala
hemofilia yang tidak disebutkan. Jika Anda khawatir tentang gejala hemofilia,
silakan konsultasikan dengan dokter.
Segera hubungi dokter atau
pergi ke rumah sakit terdekat jika mengalami tanda dan gejala berikut ini:
1. Sakit
kepala parah
2. Muntah
berulang kali
3. Sakit
leher
4. Pandangan
buram
5. Perdarahan
besar yang tidak bisa dihentikan setelah cedera
6. Sendi
bengkak yang terasa panas jika disentuh dan sangat sakit ketika ditekuk
Pasein hemofilia dapat
mencegah perdarahan dan mengurangi gejala lainnya dengan obat-obatan. Untuk
hemofilia A, dokter akan memberikan hormon desmopressin yang disuntikkan ke
pembuluh darah. Kemudian, untuk hemofilia B, dokter akan memberikan partikel
pembekuaan darah sintesis. Ini disebut juga dengan faktor pembekuan rekombinan.
Sementara untuk kondisi lebih parah, yaitu hemofilia C, pasien harus
menggunakan infus plasma. Selain itu, pasien dapat mengikuti terapi fisik jika
ada sendi-sendi yang rusak.
Penyakit hemofilia tidak
bisa disembuhkan, tapi bisa dikurangi gejala keparahannya dengan obat-obatan.
Dilansir dari Medical News Today, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof.
K. John Pasi, seorang direktur Haemophilia Center di Barts Health NHS Trust dan
rekannya sedang melakukan pengembangan pengobatan untuk menyembuhkan pasein
hemofilia. Para peneliti berpendapat bahwa pengobatan berupa terapi gen
memiliki kemungkinan untuk memperbaiki kesalahan genetik pada pasien hemofilia.
Dalam penelitian tersebut,
dilakukan uji coba penyuntikkan terapi gen pada 13 orang dengan hemofilia A.
Selama satu tahun, hasil uji coba menunjukkan bahwa semua pasien mampu
menghentikan pengobatan hemofilia yang sebelumnya mereka lakukan dan pembekuan
darah mereka hampir mendekati tingkat normal. Sayangnya, terapi gen ini belum
benar-benar disempurnakan sehingga belum bisa digunakan untuk menyembuhkan
pasien hemofilia sepenuhnya.
Cara yang kedua adalah
transplantasi hati. Transplantasi hati ini merupakan cara kedua untuk solusi
penyakit hemofilia. Mengapa hati? Karena faktor pembekuan yang telah hilang
seharusnya diproduksi di hati maka dari itu jika mengganti organ hati yang
tidak memiliki gen pembentuk faktor pembekuan dengan organ hati baru yang
memiliki gen normal lengkap akan menjadikan penderita dapat kembali memproduksi
faktor pembekuan yang hilang. Namun, transplantasi hati terlalu beresiko untuk
digunakan sebagai solusi obat hemofilia. Cara ini hanya dilakukan jika sudah
sangat mendesak dan penderita dalam keadaan parah.
Untuk pengobatan terakhir
adalah Desmopressin (DDAVP) yang merupakan hormon buatan manusia. Namun DDVAP
ini hanya mampu meringankan hemofilia A ringan, tidak bisa membantu meringankan
hemofilia A berat maupun hemofilia B. DDAVP diberikan dengan cara menyuntikan
pada saluran infus maupun dengan menggunakan semprot hidung. DDAVP merangsang
pelepasan faktor pemebekuan VIII dan juga akan meningkatkan kadar protein dalam
darah. Namun obat ini tidak bisa digunakan setiap kali karena antibodi semakin
lama akan semakin kuat bila obat ini digunakan terus menerus.
Dalam beberapa kasus, hemofilia bisa menyebabkan berbagai komplikasi seperti kerusakan sendi, pendarahan internal ( pendarahan dalam otot ) dan akan membengkak yang menyebabkan kaku (mati rasa), pendarahan pada pencernaan sehingga darah akan muncul pada muntahan dan feses, hematuria, dll.
Kedua, kompres luka dengan es. Letakkan kantong es di atas handuk basah ke bagian yang terluka kira-kira selama lima menit. Lalu, diamkan bagian yang terluka tanpa es selama 10 menit. Lakukan hal tersebut berulang-ulang selama bagian yang terluka masih terasa panas. Kata ahli, cara ini bisa meringankan rasa sakit, sekaligus memperlambat laju perdarahan.
Selanjutnya, Berikan tekanan menggunakan perban elastis untuk membalut persendian yang terluka. Tekanan yang tak terlalu keras ini bisa memperlambat laju perdarahan dan menyokong persendian. Cara ini juga bisa digunakan pada perdarahan otot.
Hal Unik Untuk Penderita Hemofilia
Menyambut World Hemophilia Day ke-29 yang jatuh pada 17 April 2019, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) meluncurkan aplikasi android Hemofilia Indonesia. Mengusung tema “Reaching Out, The Fisrt Step to Care”, peluncuran aplikasi ini bertujuan memudahkan pencatatan pasien hemofilia atau gangguan penggumpalan darah lain dalam sistem registrasi nasional. Dengan mengisi aplikasi dan mengirimkan datanya, individu akan secara otomatis terdaftar dalam sistem registrasi nasional sehingga mempermudah identifikasi dan penanganan medis, sekaligus perkembangan penyakit ke depannya. Menurut Ketua HMHI, Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp.A, pendataan hemofilia secara nasional itu sangat dibutuhkan, terutama untuk mengatasi kendala geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan serta memiliki penduduk yang berjumlah banyak. “Hingga saat ini, penderita hemofilia hanya tercatat sebanyak 2092 orang, sedangkan menurut statistik saja, setidaknya terdapat 20-25.000 penderita hemofilia di Indonesia, artinya baru 10% saja yang telah terdeteksi”, tuturnya saat acara peluncuran di Jakarta, Kamis (4/4/2019). Wakil Ketua HMHI, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp.A mengemukakan, rendahnya tingkat identifikasi penderita hemofilia salah satunya dipengaruhi stigma dan mitos yang beredar, membuat penderita cenderung menyembunyikan kondisinya.
Fakta Fakta Hemofilia
Apa Penyebabnya ?
Hemofilia adalah penyakit
genetik yang diwariskan oleh orangtua. Penyakit ini disebabkan oleh kecacatan
pada gen pembuat faktor pembekuan darah. Orang dengan penyakit ini tidak dapat
memproduksi faktor VIII dan IX dalam jumlah yang cukup. Oleh sebab itu, ketika
operasi atau ada luka terbuka, pasien akan sangat sulit untuk menghentikan
perdarahan karena tubuh mereka tidak memproduksi cukup protein untuk
penggumpalan darah.
Setiap orang mewarisi dua
kromosom seks dari orangtua. Wanita memiliki dua kromosom X (XX), sementara
pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Dalam banyak kasus,
penyakit ini secara genetik diturunkan ke anak, biasanya karena ibu. Kondisi
ini disebut kelainan genetik yang berkaitan dengan kromosom seks (kromosom X).
Jika wanita memiliki salah
satu kromosom X dengan hemofilia, ia tidak akan terkena penyakit ini. Pasalnya,
wanita dapat mengalami penyakit ini hanya bila kedua kromosom X membawa sifat
hemofilia. Namun, wanita dapat menjadi pembawa gen penyakit ini dan menurunkannya
pada anaknya, sedangkan ia sendiri tidak kena penyakit ini. Lain halnya dengan
pria. Pria hanya punya satu kromosom X. Jadi, jika pria memiliki kromosom X
dengan kelainan hemofilia, maka ia sangat mungkin akan terkena penyakit ini.
Komplikasi Hemofilia Jika
Dibiarkan !
Dalam beberapa kasus, hemofilia bisa menyebabkan berbagai komplikasi seperti kerusakan sendi, pendarahan internal ( pendarahan dalam otot ) dan akan membengkak yang menyebabkan kaku (mati rasa), pendarahan pada pencernaan sehingga darah akan muncul pada muntahan dan feses, hematuria, dll.
Cara Menangani Pendarahan Pada Penderita Hemofilia
Pertama, istirahatkan
sendi yang mengalami perdarahan. Lalu, letakkan lengan atau kaki yang mengalami
perdarahan ke atas bantal. Namun yang perlu diingat, jangan menggerakan
persendian yang terluka. Apalagi berjalan dengan kondisi seperti ini.
Kedua, kompres luka dengan es. Letakkan kantong es di atas handuk basah ke bagian yang terluka kira-kira selama lima menit. Lalu, diamkan bagian yang terluka tanpa es selama 10 menit. Lakukan hal tersebut berulang-ulang selama bagian yang terluka masih terasa panas. Kata ahli, cara ini bisa meringankan rasa sakit, sekaligus memperlambat laju perdarahan.
Selanjutnya, Berikan tekanan menggunakan perban elastis untuk membalut persendian yang terluka. Tekanan yang tak terlalu keras ini bisa memperlambat laju perdarahan dan menyokong persendian. Cara ini juga bisa digunakan pada perdarahan otot.
Posisikan area yang terluka
di tempat yang lebih tinggi. Tujuannya untuk menurunkan tekanan di bagian yang
terluka. Dengan begitu, laju keluarnya darah bisa melambat.
Hal Unik Untuk Penderita Hemofilia
Menyambut World Hemophilia Day ke-29 yang jatuh pada 17 April 2019, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) meluncurkan aplikasi android Hemofilia Indonesia. Mengusung tema “Reaching Out, The Fisrt Step to Care”, peluncuran aplikasi ini bertujuan memudahkan pencatatan pasien hemofilia atau gangguan penggumpalan darah lain dalam sistem registrasi nasional. Dengan mengisi aplikasi dan mengirimkan datanya, individu akan secara otomatis terdaftar dalam sistem registrasi nasional sehingga mempermudah identifikasi dan penanganan medis, sekaligus perkembangan penyakit ke depannya. Menurut Ketua HMHI, Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp.A, pendataan hemofilia secara nasional itu sangat dibutuhkan, terutama untuk mengatasi kendala geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan serta memiliki penduduk yang berjumlah banyak. “Hingga saat ini, penderita hemofilia hanya tercatat sebanyak 2092 orang, sedangkan menurut statistik saja, setidaknya terdapat 20-25.000 penderita hemofilia di Indonesia, artinya baru 10% saja yang telah terdeteksi”, tuturnya saat acara peluncuran di Jakarta, Kamis (4/4/2019). Wakil Ketua HMHI, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp.A mengemukakan, rendahnya tingkat identifikasi penderita hemofilia salah satunya dipengaruhi stigma dan mitos yang beredar, membuat penderita cenderung menyembunyikan kondisinya.
Fakta Fakta Hemofilia
1.
Pria paling rentan
Sebagian besar penyandang
Hemofilia adalah laki-laki. Dalam hal ini,
perempuan hanya bersifat sebagai pembawa dan penerus gen hemofilia.
Prof. Dr. dr Djajadiman
Gatot Amelia C, Sp. A (K) dari Divisi Hematology Onkologi Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FK-UI RSCM mengatakan, perempuan tidak bisa terdeteksi begitu
saja karena hanya pembawa gen.
"Tipe A ditemukan
lebih banyak dibandingkan tipe B, yaitu sekitar 80-85 persen dari total
hemofilia. Kedua coding factor tersebut terdapat pada kromosom X. Untuk itu,
hemofilia paling banyak diderita oleh pria, sebab pria hanya memiliki satu
kromosom X," katanya.
2.
Dua tipe
Menurut Djajadiman, terdapat
dua jenis hemofilia. Tipe A atau hemofilia klasik terjadi akibat kekurangan
faktor VIII pembekuan darah. Sedangkan tipe B terjadi akibat kekurangan faktor
IX.
3.
Jumlah penyandang Hemofilia A lebih banyak
Djajadiman mengatakan,
saat darurat, biasanya dokter akan memperkirakan tipe A dulu karena jumlahnya
paling banyak. "Nanti kalau nggak berhasil, kita beralih ke B. Namun baik
tipe A dan B sama parahnya."
4.
Perlu transfusi darah
Berbeda dengan penyakit
ginjal, transfusi yang dilakukan oleh penyandang Hemofilia hanya menggunakan
plasma darah.
"Transfusi plasma
untuk penyandang hemofilia diproses khusus. Maka itu biayanya mahal
karena risiko pembentukan inhibitor (antibodi)," katanya.
Data World Federation of
Hemophilia menunjukkan, 15-25 persen penyandang Hemofilia secara lambat laun
akan membentuk antibodi terhadap pengobatannya. Di sisi lain, 3.500 penyandang
hemofilia memiliki inhibitor sehingga menghambat kerja faktor VIII dan IX.
5.
Genetik
Hemofilia adalah penyakit
genetik atau diturunkan dari orangtua, sehingga sudah terbentuk sejak seseorang
dilahirkan. Hemofilia bukan penyakit menular. Kendati demikian, sekitar 30
persen penderita penyakit ini tidak mempunyai riwayat keluarga. Hal itu terjadi
akibat mutasi genetika yang hingga kini belum diketahui penyebabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar