Minggu, 27 Oktober 2019

Awas, Hipotensi dan Anemia serupa tapi tak sama



       
     Sistem peredaran darah adalah bagian yang sangat signifikan bagi tubuh dimana ia bertugas memindahkan zat dari dan ke seuruh sel dalam tubuh kita termasuk jantung dan otak, dua bagian paling penting dalam kelangsungan hidup kita.. Proses ini terdiri pada darah, pembuluh darah, dan jantung.
Semua komponen tersebut memainkan peran penting dalam fungsi normal dari hati manusia dan sistem peredaran darah secara keseluruhan. Jantung memompa darah ke berbagai organ melalui pembuluh darah, di mana oksigen dan nutrisi didistribusikan ke bagian-bagian tubuh.
Menurut penelitian medis, penyakit pada sistem peredaran darah menyumbang angka kematian tertinggi dibandingkan dengan penyakit lain. Disusul oleh faktor keturunan atau faktor genetik yang menyebabkan penyakit sistem peredaran darah pada manusia. Oleh karena itu, dengan angka yang demikian besarnya maka sangat penting bagi kita untuk lebih mengenal sistem peredaran darah.
Fungsi utama dari sistem sirkulasi adalah untuk memasok oksigen, hormon, dan nutrisi penting lainnya ke sel-sel tubuh dan jaringan. Dalam siklus ini, juga melakukan pekerjaan menggantikan karbon dioksida dengan oksigen. Setiap gangguan atau penyimpangan dalam siklus peredaran darah menyebabkan kondisi medis, yang dapat ringan sampai parah.Semua komponen tersebut memainkan peran penting dalam fungsi normal dari hati manusia dan sistem peredaran darah secara keseluruhan. Jantung memompa darah ke berbagai organ melalui pembuluh darah, di mana oksigen dan nutrisi didistribusikan ke bagian-bagian tubuh.
Menurut penelitian medis, penyakit pada sistem peredaran darah menyumbang angka kematian tertinggi dibandingkan dengan penyakit lain. Disusul oleh faktor keturunan atau faktor genetik yang menyebabkan penyakit sistem peredaran darah pada manusia. Oleh karena itu, dengan angka yang demikian besarnya maka sangat penting bagi kita untuk lebih mengenal sistem peredaran darah.
Setiap gangguan atau penyimpangan dalam siklus peredaran darah menyebabkan kondisi medis, yang dapat ringan sampai parah.
Gangguan pada Sistem Peredaran Darah Manusia adalah kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem peredaran atau sirkulasi darah manusia baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Banyak ganguan yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia salah satunya Hipotensi/darah rendah.

Apa Perbedaaan Darah Rendah dan Kurang Darah?
Kamu pasti mengira kurang darah dan darah rendah itu sama. Sebenarnya meski gejalanya mirip, kedua kondisi ini sebenarnya jauh berbeda. Selain dikatakan sebagai sinonim, kesalahpahaman lain yang diketahui banyak orang terkait kurang darah dan darah rendah itu adalah ketika seseorang diketahui mengidap hipotensi, sudah pasti ia juga mengidap kurang darah. Padahal keduanya juga tak melulu berkaitan. "Kalau Darah Rendah atau Hipotensi itu tekanan darahnya yang rendah atau ini diukurnya dengan menggunakan tensi meter. Sedangkan kurang darah atau anemia adalah butir darah merahnya yang berkurang, ini diukurnya pakai Hb meter," terang Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, Sp JP, FIHA.

Anemia adalah kondisi dimana seseorang tidak memiliki sel-sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen yang memadai ke setiap organ dan jaringan tubuhnya. Dimana pada wanita nilai normal hemoglobin 12-16 gr/dl dan pada pria 13,5-18 gr/dl. Gejalanya bervariasi, mulai dari kelelahan, muka pucat, jantung berdetak cepat tapi tak beraturan, sesak napas, nyeri dada, pening, gangguan kognitif, hingga tangan terasa dingin, begitu pula
dengan kaki serta sakit kepala.






Sumber:http://Altundo.com 


Sedangkan hipotensi menunjukkan kondisi dimana tekanan darah kamu lebih rendah dari tekanan darah normal yaitu 120/80 mmHg. Menurut pakar, tekanan darah rendah baru dapat terjadi jika tekanan sistoliknya kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastoliknya di bawah 60 mmHg. Gejalanya antara lain pening hingga terasa ingin pingsan, kurangnya konsentrasi, pandangan kabur, mual, demam, kulit pucat, sesak napas, kelelahan, depresi dan mendadak haus. Dilihat dari gejalanya, dapat dikatakan keduanya hampir mirip karena sama-sama menyerang darah. Hanya saja tampaknya tekanan darah rendah memperlihatkan gejala yang lebih parah daripada anemia.
Pengidap sama-sama merasakan lemah, pusing dan seperti melayang. Terkadang penyebabnya bisa sama. Pengidap anemia  karena perdarahan bisa juga mengalami hipotensi. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan tekanan darah rendah atau hipotensi adalah kehilangan cairan atau darah misalnya muntah-muntah hebat atau diare, perdarahan baik melalui saluran cerna atas maupun saluran bawah yang terjadi tiba-tiba, perdarahan melalui alat kelamin wanita, infeksi berat atau gangguan pada jantung.
“Jika tekanan darah seseorang 90/60 mmHg atau kurang, sudah bisa disebut mengalami hipotensi. Kejadian hipotensi lebih banyak dialami para wanita dari pada pria karena berhubungan dengan perdarahan (menstruasi/melahirkan) atau kehamilan yang juga bisa menyebabkan terjadinya hipotensi," papar Ari.
“Karena kondisi anemia dan hipotensi ini sering tumpang tindih atau sekilas mirip, kadang kala seseorang dengan kondisi hipotensi mengonsumsi zat besi. Padahal, hal itu tepat. "Pasien sama-sama merasakan lemah, pusing dan seperti melayang. Kadang kala penyebabnya bisa sama. Pasien dengan anemia  karena perdarahan bisa juga mengalami tekanan darah rendah. Saya beberapa kali mendapatkan pasien yang sebenarnya kadar hemoglobin normal tetapi mempunyai tekanan darah rendah mengosumsi zat besi yang sebenarnya tidak tepat," kata staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Sembarangan mengonsumsi suplemen zat besi harus dihindari karena kadar zat besi yang tinggi dalam darah bisa menimbulkan masalah kesehatan.
"Jangan menjadi dokter buat diri sendiri karena keluhan bisa sama tetapi penyebabnya berbeda. Kalau beda penyebab tentu beda obatnya," katanya.


 Sumber:http://petunjuksehat.com

APA ITU HIPOTENSI?
Hipotensi atau biasa dikenal tekanan darah rendah, adalah kondisi tekanan darah yang dihasilkan saat jantung memompa darah ke seluruh arteri darah dalam tubuh berada di bawah batas tekanan normal. Saat darah mengalir melalui arteri, darah memberikan Tekanan pada dinding arteri.

Tekanan itulah yang dinilai sebagai ukuran kekuatan aliran darah atau disebut dengan tekanan darah. Jika tekanan darah di dalam arteri lebih rendah dibandingkan normal, biasanya disebut dengan tekanan darah rendah atau hipotensi. Ini juga berarti menandakan bahwa jantung, otak, dan bagian lain dari tubuh tidak mendapatkan cukup darah.

Tekanan darah yang normal, ukurannya 120/80 mm Hg, tetapi tekanan darah seseorang tiap waktunya tidak selalu sama, selalu berubah-ubah. Beberapa ahli mengatakan bahwa tekanan darah yang rendah berada pada ukuran sistoliknya 90 (angka pertama) dan distoliknya berukuran 60 (angka kedua). Perubahan tekanan darah menjadi rendah secara tiba-tiba juga berbahaya karena bisa berdampak pusing yang hebat, akibat otak gagal menerima aliran darah yang cukup.
Tidak semua hipotensi harus ditangani. Bila tekanan darah rendah ini tidak memiliki gejala dan tidak mengganggu, maka tidak memerlukan penanganan secara khusus. Hipotensi baru memerlukan terapi lebih lanjut bila terdapat keluhan lain seperti pusing, lemas, sempoyongan, atau pingsan.

SIAPA SAJA YANG BERISIKO TERKENA HIPOTENSI?
Adapun yang berisiko terkena hipotensi adalah:
  •   Lansia
  •  Anak- anak
  •  Orang yang mengonsumsi obat darah tinggi seperti diuretik
  •  Orang dengan penyakit jantung
  • Orang yang tirah baring lama
  • Wanita hamil

JENIS JENIS HIPOTENSI
1. Hipotensi postural
Jenis tekanan darah postural adalah hal yang umum. Biasanya terjadi ketika Anda buru-buru berdiri dari posisi duduk atau habis berbaring tiduran. Hipotensi jenis ini disebut juga sebagai hipotensi ortostatik. Percaya atau tidak, hasil gravitasi bisa membuat aliran darah Anda mengarah ke kaki saat Anda berdiri. Tubuh Anda mencoba untuk meningkatkan denyut jantung dan kontriksi pembuluh darah, agar pasokan darah dapat kembali ke otak. Gejala tekanan darah ini biasanya akan berupa pusing, mual dan bisa sampai pingsan.
Hipotensi postural juga bisa disebabkan oleh pemicu lainnya, yaitu seperti dehidrasi, istirahat yang lama, kehamilan, masalah jantung, keadaan yang sangat panas, varises yang membesar, diabetes dan kelainan saraf. Tidak hanya itu, tekanan darah tipe postural ini juga bisa terjadi karena pengaruh obat. Ketika Anda didiagnosis menderita darah tinggi, obat yang dipakai untuk mengatasi darah tinggi tersebut dapat menurunkan tekanan darah rendah secara drastis.
2. Hipotensi postprandial
Tekanan darah postprandial adalah kondisi yang unik, karena tekanan darah ini terjadi setelah makan. Mengapa bisa begitu, bukankah seharusnya setelah makan kita malah berenergi karena mendapatkan nutrisi lebih?
Begini, setelah makan aliran darah di tubuh akan bergerak pada saluran pencernaan Anda. Sama halnya dengan ketika Anda berdiri, darah mengumpul pada kaki. Tubuh Anda mencoba untuk melawan hal tersebut dengan meningkatkan denyut jantung Anda agar tetap dalam keadaan normal.
Namun upaya tubuh  tidak selalu berhasil, sehingga saat gagal, Anda akan merasakan kepala yang pusing, rasa ingin pingsan, atau bahkan sampai jatuh.Tekanan darah rendah tipe ini umum terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi yang sedang dalam pengobatan, atau seseorang dengan sakit gangguan sistem saraf seperti penyakit Parkinson.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengurangi dosis obat, makan dalam porsi kecil (tapi beberapa kali makan), dan ngemil makanan rendah karbohidrat.
3. Hipotensi karena salah sinyal otak
Tekanan darah ini terjadi saat adanya ‘sinyal’ yang salah antara otak dan jantung. Penyebab dari tipe tekanan darah rendah ini adalah berdiri dalam jangka waktu yang lama, akibatnya Anda akan merasa kepala pusing, mual, hingga pingsan.
Biasanya tipe tekanan darah rendah ini menyerang anak muda. Saraf di ventrikel kiri jantung memberikan sinyal otak bahwa darah terlalu tinggi. Otak pun menurunkan denyut jantung, sehingga tekanan darah pun menurun. Hal inilah yang menyebabkan darah mengumpul di kaki dan kesulitan untuk mencapai otak.
4. Hipotensi akibat kerusakan sistem saraf
Kondisi ini dapat disebut sebagai sindrom Shy-Drager, yaitu merupakan kondisi kelainan yang langka. Ini disebabkan karena adanya kerusakan progresif pada sistem saraf otonom (sistem saraf yang mengontrol fungsi otomatis tubuh). Ciri dari tekanan darah yang rendah ini adalah Anda mengalami ciri-ciri tekanan darah rendah postural yang parah  kombinasi tekanan darah tinggi ketika Anda berbaring atau tiduran.

BAGAIMANA GEJALA ORANG YANG MENDERITA HIPOTENSI?
  •  Pusing
  • Mual
  • Pingsan
  •  Rasa haus terus menerus
  • Kurang konsentrasi
  • Pandangan kabur
  •  Kulit pucat, keringat dingin
  • Lemas
  • Tidak bersemangat
  •  Sesak napas
  • Tubuh terasa tidak stabil


APA SAJA YANG MENYEBABKAN SESEORANG MENDERITA HIPOTENSI?
Tekanan darah dapat berubah sepanjang waktu, tergantung kondisi dan aktivitas yang dilakukan tiap orang. Kondisi ini merupakan hal yang normal, karena tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pertambahan usia dan keturunan. Tidak hanya pada orang dewasa, tekanan darah rendah juga bisa terjadi pada anak-anak.
  • Kehamilan
    Tekanan darah selama masa kehamilan akan menurun seiring berkembangnya sirkulasi darah dalam tubuh ibu hamil. Terutama di 24 minggu awal kehamilan.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu
    Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek menurunnya tekanan darah, di antaranya adalah furosemide, atenolol, propranolol, levodopa, dan sildenafil.
  • Ketidakseimbangan hormon
    Beberapa penyakit, seperti diabetes dan 
    penyakit tiroid, menyebabkan penurunan kadar hormon dalam darah, dan berdampak pada menurunnya tekanan darah.
  • Dehidrasi
    Ketika kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, volume darah juga dapat berkurang. Kondisi ini dapat memicu penurunan tekanan darah.
  • Infeksi
    Infeksi berat dan menyebar ke darah (shock sepsis). Racun dari kuman dapat menyebar ke darah dan mengakibatkan pelebaran pembuluh darah berujung pada hipotensi yang mengancam nyawa.
  • Penyakit jantung
    Terganggunya fungsi jantung menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah dengan baik ke seluruh tubuh, sehingga tekanan darah akan menurun.
  • Kekurangan nutrisi
    Kekurangan vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan anemia dan berakhir pada penurunan tekanan darah.
  • Perdarahan
    Kehilangan darah dalam jumlah besar akibat cedera dapat menurunkan volume dan aliran darah ke berbagai jaringan tubuh, sehingga tekanan darah menurun drastis.
  • Reaksi alergi parah
    Beberapa pemicu alergi (alergen) dapat menimbulkan reaksi alergi parah (
    anafilaksis) yang berdampak pada menurunnya tekanan darah.
Selain karena beberapa faktor penyebab di atas, hipotensi dapat terjadi ketika mengubah posisi dari duduk atau berbaring ke posisi berdiri. Jenis hipotensi ini dikenal dengan hipotensi ortostatik atau hipotensi postural.
Hipotensi juga dapat terjadi saat seseorang berdiri terlalu lama hingga darah menumpuk di bagian tungkai. Kondisi ini disebut juga neural mediated hypotension (NMH). Sebagian besar penderita hipotensi jenis ini adalah anak-anak.

APA YANG HARUS DILAKUKAN SAAT KITA MENDERITA HIPOTENSI?
Jika Anda mengalami hipotensi yang disertai gejala, tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah duduk atau berbaring. Posisikan kaki lebih tinggi dari jantung dan pertahankan posisi tersebut selama beberapa saat. Jika gejala tidak juga mereda, maka perlu dilakukan penanganan oleh dokter.
Penanganan hipotensi yang utama adalah perubahan pola makan dan gaya hidup, seperti:

ü  Memperbanyak konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi, karena garam dapat meningkatkan tekanan darah.
ü  Memperbanyak konsumsi cairan, karena cairan dapat meningkatkan volume darah dan membantu mencegah dehidrasi.
ü  Berolahraga secara teratur untuk meningkatkan tekanan darah.
ü  Menggunakan stoking khusus pada tungkai (stoking kompresi) untuk memperlancar aliran darah.
Jika hipotensi disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu, dokter akan mengurangi dosisnya, atau mengganti jenis obat bila perlu.
Hipotensi yang disertai gejala syok merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan darurat. Dokter akan memberikan cairan infus, obat, hingga transfusi darah untuk meningkatkan tekanan darah, sehingga mencegah kerusakan fungsi organ.
Setelah menstabilkan tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernapasan pasien, dokter akan memberikan pengobatan untuk mengatasi penyebabnya. Misalnya, memberikan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi yang sudah masuk ke dalam darah.

APAKAH ADA CARA UNTUK MENCEGAH TERJADINYA HIPOTENSI PADA SESEORANG?
tentu ada hal yang dapat di lakukan untuk mencegah atau mengurangi gejala hipotensi, yaitu sebagai berikut:
  •   Menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari dan membatasi konsumsi alkohol.
  • Makan dalam porsi kecil namun sering, dan tidak langsung berdiri setelah makan.
  • Memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur (sekitar 15 cm).
  •  Berdiri secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring.
  •  Menghindari terlalu lama berdiri atau duduk, dan menghindari duduk bersila.
  • Tidak membungkuk atau mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba.
  •  Menghindari mengangkat beban berat.

Diagnosis Hipotensi
Hipotensi atau darah rendah dapat diketahui melalui pemeriksaan tekanan darah. Dokter akan menggunakan alat pengukur tekanan darah atau sfigmomanometer untuk mengukur tekanan darah.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan angka yang cukup rendah disertai adanya gejala tertentu, maka dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi kemungkinan kondisi atau penyakit tertentu yang menyebabkan hipotensi. Pemeriksaan yang akan dilakukan dokter meliputi:
Tes darah
Pemeriksaan ini dilakukan dokter untuk memeriksa kadar gula dan kadar hormon di dalam darah pasien.
Elektrokardiografi (EKG)
Elektrokardiografi bertujuan untuk mendeteksi struktur jantung yang tidak normal dan detak jantung yang tidak beraturan.
Ekokardiogram
Tes ini dilakukan untuk memeriksa fungsi jantung dan mendeteksi kelainan yang terjadi pada jantung.
Uji latih jantung (stress test)
Tes ini dilakukan untuk menilai fungsi jantung saat melakukan aktivitas, dengan cara membuat jantung bekerja lebih keras, misalnya dengan meminta pasien berjalan atau berlari di atas treadmill atau memberikan obat tertentu yang meningkatkan kerja jantung.
Manuver valsalva
Tes ini dilakukan dengan meminta pasien mengambil napas panjang, kemudian menutup hidung dan membuang napas melalui mulut. Tes ini bertujuan untuk memeriksa kondisi saraf dalam sistem pernapasan.
Tilt table test
Tes ini dilakukan terhadap pasien hipotensi ortostatik untuk melihat perbedaan tekanan darah saat berbaring dan berdiri. Dalam pemeriksaan ini, pasien akan dibaringkan di atas meja yang bisa digerakkan ke posisi tegak dan melintang dengan kecepatan tertentu.


Obat untuk penderita hipotensi
1. Obat vasopressin
Obat vasopressin adalah obat untuk mempersempit pembuluh darah agar menyebabkan peningkatan tekanan darah. Obat ini biasanya digunakan untuk kasus hipotensi kritis.
Vasopressin dapat dikombinasikan dengan vasolidator (nitroprusside, nitroglycerin) untuk menjaga tekanan darah sekaligus meningkatkan kerja otot jantung. Nitroprusside digunakan untuk mengurangi beban sebelum dan setelahnya dan meningkatkan kerja jantung. Nitroglycerin secara langsung melemaskan pembuluh darah vena dan mengurangi beban sebelumnya.
2. Catecholamine
Catecholamine termasuk dalam obat adrenalin, noradrenalin, dan dopamin. Obat-obatan ini bekerja memengaruhi sistem saraf simpatetik dan pusat. Catecholamines juga berfungsi membuat jantung berdetak lebih cepat dan kuat serta menyempitkan pembuluh darah sehingga berakibat pada peningkatan tekanan darah.
3. Obat darah rendah lainnya
Beberapa obat darah rendah tertentu ditargetkan khusus untuk mengobati kondisi jantung, masalah pembuluh darah, atau masalah sirkulasi darah yang bisa menyebabkan penurunan tekanan darah. Obat-obatan ini dapat bekerja dengan cara yang berbedam, dan  satu agen dapat digunakan untuk mengobati beberapa jenis masalah kardiovaskular.
Beberapa obat dapat digunakan untuk mengobati kondisi tekanan darah rendah yang terjadi saat Anda berdiri(hipotensi ortostatik). Misalnya, obat fludrokortison yang meningkatkan volume darah. Pada kasus hioptensi ortostatik kronis, dokter akan meresepkan obat midodrine (Orvaten).

MAKANAN- MAKANAN ALAMI YANG DAPAT DI KONSUMSI OLEH SI HIPOTENSI
1. Kismis
Kismis dianggap sebagai obat alami yang sangat baik untuk mengobati hipotensi karena membantu meningkatkan fungsi kelenjar adrenal.
Rendam sekitar 30 - 40 kismis dalam secangkir air semalaman dan konsumsi makanan ini di pagi hari pada waktu perut kosong.
2. Susu almond
Seperti kismis, almond bisa meningkatkan fungsi kelenjar adrenal untuk mempelancar aliran darah penderita hipotensi. 
Rendam 4 - 5 almond dalam air semalaman, lepaskan kulit dan blender. Konsumsi susu almond setiap pagi selama beberapa minggu untuk mengobati tekanan darah rendah Anda.
3. Jus wortel
Inilah hebatnya wortel, selain kaya vitamin A, sayuran ini bisa meningkatkan sirkulasi darah dan mengatur tekanan darah hingga stabil.
Konsumsi jus wortel ditambah dua sendok makan madu saat perut kosong dua kali sehari (pagi dan sore) untuk hasil yang lebih baik.
4. Garam
Kebalikan dari penderita hipertensi yang harus mengurangi garam, Hipotensi justru membutuhkan natrium untuk membantu meningkatkan tekanan darah. Namun ingat, konsumsi garam tetap harus sesuai yang disarankan.
5. Lemon
Lemon sangat efektif untuk mengobati tekanan darah rendah. Antioksidan yang ada di dalamnya bisa berguna untuk mengatur sirkulasi dan menjaga tekanan darah. Jika Anda merasa kelelahan, minum segelas air perasan lemon dicampur dengan sedikit gula atau garam untuk mengontrol tekanan darah Anda.
6. Bawang putih
Bawang putih mengandung senyawa yang dapat membantu menstabilkan tekanan darah. Konsumsi bawang putih (2 siung) 1 jam sebelum tidur atau tambahkan pada makanan Anda.
7. Kopi
Minuman yang mengandung kafein seperti kopi, cola, cokelat panas bisa meningkatkan tingkat tekanan darah. penyebabnya belum diketahui secara pasti tapi diduga kafein bisa merangsang pelepasan hormon adrenalin.
SELF DIAGNOSIS
Self diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang kita dapatkan secara mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, bahkan pengalaman sakit kita di masa lalu.
Padahal, diagnosis hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional. Pasalnya, proses menuju diagnosis yang tepat sangatlah sulit.
Ketika kita berkonsultasi, dokter akan menetapkan diagnosis. Diagnosis ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lain yang kita alami.
Dua orang dokter bahkan bisa memberikan diagnosis berbeda pada pasien yang sama.Saat mendiagnosis diri, kita menyimpulkan suatu masalah kesehatan fisik maupun psikologis dengan berbekal informasi yang kita miliki.
Padahal, tenaga medis profesional saja perlu mengulik seluk-beluk suatu masalah kesehatan sebelum menetapkan diagnosis kita. Bahkan mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan karena dugaan terhadap suatu penyakit tidak bisa disimpulkan begitu saja.
Selain lingkungan sekitar, kemajuan teknologi turut menyumbang fenomena ini. Misalnya, setelah mendengar masukan dari teman, kita mencarinya di internet. Sayangnya, sumber yang dijadikan rujukan justru bukanlah sumber kredibel yang telah diamini oleh dokter.
Bahkan, sebuah penelitian pada tahun 2013 bahkan menemukan bahwa di antara orang-orang yang mencari informasi terkait kondisi kesehatan mereka, hanya setengahnya saja yang benar-benar berkonsultasi dengan dokter.
Padahal, kita tetap harus berkunjung ke dokter untuk memastikan apa yang kita alami. Informasi tadi sebaiknya dijadikan bekal untuk pertanyaan kepada dokter.

            Jadi berdasarkan penjelasan diatas kita bisa tau bahwa banyak fakta yang belum kita ketahui tentang Hipotensis seperti penyebab,gejala,perawatannya dan pencegahannya. Serta ada beberapa fakta menarik seputar Hipotesis. Mungkin sampai disini artikel mengenai Hipotensi  dan apabila ada salah penulisan kata mohon maaf  terimakasih atas perhatiannya

Penyusun
·         Fatia Arta Noviana(13)
·         Nazar Pratama(28)
·         Zahra Ainun Mutmainnah(37)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar