Sistem peredaran darah
adalah bagian yang sangat signifikan bagi tubuh dimana ia bertugas memindahkan
zat dari dan ke seuruh sel dalam tubuh kita termasuk jantung dan otak, dua
bagian paling penting dalam kelangsungan hidup kita.. Proses ini terdiri
pada darah, pembuluh darah, dan jantung.
Semua komponen tersebut memainkan peran
penting dalam fungsi normal dari hati manusia dan sistem peredaran darah secara
keseluruhan. Jantung memompa darah ke berbagai organ melalui pembuluh darah, di
mana oksigen dan nutrisi didistribusikan ke bagian-bagian tubuh.
Menurut penelitian medis, penyakit pada
sistem peredaran darah menyumbang angka kematian tertinggi dibandingkan dengan
penyakit lain. Disusul oleh faktor keturunan atau faktor genetik yang
menyebabkan penyakit sistem peredaran darah pada manusia. Oleh karena itu,
dengan angka yang demikian besarnya maka sangat penting bagi kita untuk lebih
mengenal sistem peredaran darah.
Fungsi utama dari sistem sirkulasi adalah
untuk memasok oksigen, hormon, dan nutrisi penting lainnya ke sel-sel tubuh dan
jaringan. Dalam siklus ini, juga melakukan pekerjaan menggantikan karbon
dioksida dengan oksigen. Setiap gangguan atau penyimpangan dalam siklus
peredaran darah menyebabkan kondisi medis, yang dapat ringan sampai parah.Semua komponen tersebut memainkan peran
penting dalam fungsi normal dari hati manusia dan sistem peredaran darah secara
keseluruhan. Jantung memompa darah ke berbagai organ melalui pembuluh darah, di
mana oksigen dan nutrisi didistribusikan ke bagian-bagian tubuh.
Menurut penelitian
medis, penyakit pada sistem peredaran darah menyumbang angka kematian tertinggi
dibandingkan dengan penyakit lain. Disusul oleh faktor keturunan atau faktor
genetik yang menyebabkan penyakit sistem peredaran darah pada manusia. Oleh
karena itu, dengan angka yang demikian besarnya maka sangat penting bagi kita
untuk lebih mengenal sistem peredaran darah.
Setiap gangguan atau penyimpangan dalam siklus peredaran darah
menyebabkan kondisi medis, yang dapat ringan sampai parah.
Gangguan
pada Sistem Peredaran Darah Manusia adalah kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem peredaran atau
sirkulasi darah manusia baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor
eksternal. Banyak ganguan yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia
salah satunya Hipotensi/darah rendah.
Apa
Perbedaaan Darah Rendah dan Kurang Darah?
Kamu pasti mengira kurang darah dan darah rendah itu sama. Sebenarnya meski gejalanya mirip, kedua kondisi ini sebenarnya jauh berbeda. Selain dikatakan sebagai sinonim, kesalahpahaman lain yang diketahui banyak orang terkait kurang darah dan darah rendah itu adalah ketika seseorang diketahui mengidap hipotensi, sudah pasti ia juga mengidap kurang darah. Padahal keduanya juga tak melulu berkaitan. "Kalau Darah Rendah atau Hipotensi itu tekanan darahnya yang rendah atau ini diukurnya dengan menggunakan tensi meter. Sedangkan kurang darah atau anemia adalah butir darah merahnya yang berkurang, ini diukurnya pakai Hb meter," terang Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, Sp JP, FIHA.
Anemia adalah kondisi dimana seseorang tidak memiliki sel-sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen yang memadai ke setiap organ dan jaringan tubuhnya. Dimana pada wanita nilai normal hemoglobin 12-16 gr/dl dan pada pria 13,5-18 gr/dl. Gejalanya bervariasi, mulai dari kelelahan, muka pucat, jantung berdetak cepat tapi tak beraturan, sesak napas, nyeri dada, pening, gangguan kognitif, hingga tangan terasa dingin, begitu pula
Kamu pasti mengira kurang darah dan darah rendah itu sama. Sebenarnya meski gejalanya mirip, kedua kondisi ini sebenarnya jauh berbeda. Selain dikatakan sebagai sinonim, kesalahpahaman lain yang diketahui banyak orang terkait kurang darah dan darah rendah itu adalah ketika seseorang diketahui mengidap hipotensi, sudah pasti ia juga mengidap kurang darah. Padahal keduanya juga tak melulu berkaitan. "Kalau Darah Rendah atau Hipotensi itu tekanan darahnya yang rendah atau ini diukurnya dengan menggunakan tensi meter. Sedangkan kurang darah atau anemia adalah butir darah merahnya yang berkurang, ini diukurnya pakai Hb meter," terang Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, Sp JP, FIHA.
Anemia adalah kondisi dimana seseorang tidak memiliki sel-sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen yang memadai ke setiap organ dan jaringan tubuhnya. Dimana pada wanita nilai normal hemoglobin 12-16 gr/dl dan pada pria 13,5-18 gr/dl. Gejalanya bervariasi, mulai dari kelelahan, muka pucat, jantung berdetak cepat tapi tak beraturan, sesak napas, nyeri dada, pening, gangguan kognitif, hingga tangan terasa dingin, begitu pula
dengan kaki serta
sakit kepala.
Sumber:http://Altundo.com
Sedangkan hipotensi
menunjukkan kondisi dimana tekanan darah kamu lebih rendah dari tekanan darah
normal yaitu 120/80 mmHg. Menurut pakar, tekanan darah rendah baru dapat
terjadi jika tekanan sistoliknya kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastoliknya
di bawah 60 mmHg. Gejalanya antara lain pening hingga terasa ingin pingsan,
kurangnya konsentrasi, pandangan kabur, mual, demam, kulit pucat, sesak napas,
kelelahan, depresi dan mendadak haus. Dilihat dari gejalanya, dapat dikatakan
keduanya hampir mirip karena sama-sama menyerang darah. Hanya saja tampaknya
tekanan darah rendah memperlihatkan gejala yang lebih parah daripada anemia.
Pengidap sama-sama
merasakan lemah, pusing dan seperti melayang. Terkadang penyebabnya bisa sama.
Pengidap anemia karena perdarahan bisa juga mengalami hipotensi. Beberapa
kondisi yang bisa menyebabkan tekanan darah rendah atau hipotensi adalah
kehilangan cairan atau darah misalnya muntah-muntah hebat atau diare,
perdarahan baik melalui saluran cerna atas maupun saluran bawah yang terjadi
tiba-tiba, perdarahan melalui alat kelamin wanita, infeksi berat atau gangguan
pada jantung.
“Jika tekanan darah
seseorang 90/60 mmHg atau kurang, sudah bisa disebut mengalami hipotensi.
Kejadian hipotensi lebih banyak dialami para wanita dari pada pria karena
berhubungan dengan perdarahan (menstruasi/melahirkan) atau kehamilan yang juga
bisa menyebabkan terjadinya hipotensi," papar Ari.
“Karena kondisi
anemia dan hipotensi ini sering tumpang tindih atau sekilas mirip, kadang kala
seseorang dengan kondisi hipotensi mengonsumsi zat besi. Padahal, hal itu
tepat. "Pasien sama-sama merasakan lemah, pusing dan seperti melayang.
Kadang kala penyebabnya bisa sama. Pasien dengan anemia karena perdarahan
bisa juga mengalami tekanan darah rendah. Saya beberapa kali mendapatkan pasien
yang sebenarnya kadar hemoglobin normal tetapi mempunyai tekanan darah rendah
mengosumsi zat besi yang sebenarnya tidak tepat," kata staf pengajar di
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Sembarangan
mengonsumsi suplemen zat besi harus dihindari karena kadar zat besi yang tinggi
dalam darah bisa menimbulkan masalah kesehatan.
"Jangan menjadi
dokter buat diri sendiri karena keluhan bisa sama tetapi penyebabnya berbeda.
Kalau beda penyebab tentu beda obatnya," katanya.
APA ITU HIPOTENSI?
Hipotensi
atau biasa dikenal tekanan darah rendah, adalah kondisi tekanan darah yang
dihasilkan saat jantung memompa darah ke seluruh arteri darah dalam tubuh
berada di bawah batas tekanan normal. Saat darah mengalir melalui arteri, darah
memberikan Tekanan pada dinding arteri.
Tekanan itulah yang dinilai sebagai ukuran kekuatan aliran darah atau disebut dengan tekanan darah. Jika tekanan darah di dalam arteri lebih rendah dibandingkan normal, biasanya disebut dengan tekanan darah rendah atau hipotensi. Ini juga berarti menandakan bahwa jantung, otak, dan bagian lain dari tubuh tidak mendapatkan cukup darah.
Tekanan darah yang normal, ukurannya 120/80 mm Hg, tetapi tekanan darah seseorang tiap waktunya tidak selalu sama, selalu berubah-ubah. Beberapa ahli mengatakan bahwa tekanan darah yang rendah berada pada ukuran sistoliknya 90 (angka pertama) dan distoliknya berukuran 60 (angka kedua). Perubahan tekanan darah menjadi rendah secara tiba-tiba juga berbahaya karena bisa berdampak pusing yang hebat, akibat otak gagal menerima aliran darah yang cukup.
Tekanan itulah yang dinilai sebagai ukuran kekuatan aliran darah atau disebut dengan tekanan darah. Jika tekanan darah di dalam arteri lebih rendah dibandingkan normal, biasanya disebut dengan tekanan darah rendah atau hipotensi. Ini juga berarti menandakan bahwa jantung, otak, dan bagian lain dari tubuh tidak mendapatkan cukup darah.
Tekanan darah yang normal, ukurannya 120/80 mm Hg, tetapi tekanan darah seseorang tiap waktunya tidak selalu sama, selalu berubah-ubah. Beberapa ahli mengatakan bahwa tekanan darah yang rendah berada pada ukuran sistoliknya 90 (angka pertama) dan distoliknya berukuran 60 (angka kedua). Perubahan tekanan darah menjadi rendah secara tiba-tiba juga berbahaya karena bisa berdampak pusing yang hebat, akibat otak gagal menerima aliran darah yang cukup.
Tidak semua
hipotensi harus ditangani. Bila tekanan darah rendah ini tidak memiliki gejala
dan tidak mengganggu, maka tidak memerlukan penanganan secara khusus. Hipotensi
baru memerlukan terapi lebih lanjut bila terdapat keluhan lain seperti pusing,
lemas, sempoyongan, atau pingsan.
SIAPA SAJA YANG BERISIKO TERKENA HIPOTENSI?
Adapun yang
berisiko terkena hipotensi adalah:
- Lansia
- Anak- anak
- Orang yang mengonsumsi obat darah tinggi
seperti diuretik
- Orang dengan penyakit jantung
- Orang yang tirah baring lama
- Wanita hamil
JENIS JENIS HIPOTENSI
1. Hipotensi postural
Jenis tekanan darah postural adalah hal yang umum. Biasanya terjadi ketika
Anda buru-buru berdiri dari posisi duduk atau habis berbaring tiduran.
Hipotensi jenis ini disebut juga sebagai hipotensi ortostatik. Percaya atau
tidak, hasil gravitasi bisa membuat aliran darah Anda mengarah ke kaki saat
Anda berdiri. Tubuh Anda mencoba untuk meningkatkan denyut jantung dan
kontriksi pembuluh darah, agar pasokan darah dapat kembali ke otak. Gejala
tekanan darah ini biasanya akan berupa pusing, mual dan bisa sampai pingsan.
Hipotensi postural juga bisa disebabkan oleh pemicu lainnya, yaitu
seperti dehidrasi, istirahat yang lama, kehamilan, masalah jantung, keadaan
yang sangat panas, varises yang membesar, diabetes dan kelainan saraf. Tidak
hanya itu, tekanan darah tipe postural ini juga bisa terjadi karena pengaruh
obat. Ketika Anda didiagnosis menderita darah tinggi, obat yang dipakai untuk
mengatasi darah tinggi tersebut dapat menurunkan tekanan darah rendah secara
drastis.
2. Hipotensi postprandial
Tekanan darah postprandial adalah kondisi yang unik, karena tekanan
darah ini terjadi setelah makan. Mengapa bisa begitu, bukankah seharusnya
setelah makan kita malah berenergi karena mendapatkan nutrisi lebih?
Begini, setelah makan aliran darah di tubuh akan bergerak pada saluran
pencernaan Anda. Sama halnya dengan ketika Anda berdiri, darah mengumpul pada
kaki. Tubuh Anda mencoba untuk melawan hal tersebut dengan meningkatkan denyut
jantung Anda agar tetap dalam keadaan normal.
Namun upaya tubuh tidak selalu berhasil, sehingga saat gagal, Anda
akan merasakan kepala yang pusing, rasa ingin pingsan, atau bahkan sampai
jatuh.Tekanan darah rendah tipe ini umum terjadi pada orang dengan tekanan
darah tinggi yang sedang dalam pengobatan, atau seseorang dengan sakit gangguan
sistem saraf seperti penyakit Parkinson.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengurangi dosis obat,
makan dalam porsi kecil (tapi beberapa kali makan), dan ngemil makanan rendah
karbohidrat.
3. Hipotensi karena salah sinyal otak
Tekanan darah ini terjadi saat adanya ‘sinyal’ yang salah antara otak
dan jantung. Penyebab dari tipe tekanan darah rendah ini adalah berdiri dalam
jangka waktu yang lama, akibatnya Anda akan merasa kepala pusing, mual, hingga
pingsan.
Biasanya tipe tekanan darah rendah ini menyerang anak muda. Saraf di
ventrikel kiri jantung memberikan sinyal otak bahwa darah terlalu tinggi. Otak
pun menurunkan denyut jantung, sehingga tekanan darah pun menurun. Hal inilah
yang menyebabkan darah mengumpul di kaki dan kesulitan untuk mencapai otak.
4. Hipotensi akibat kerusakan sistem saraf
Kondisi ini dapat disebut sebagai sindrom Shy-Drager, yaitu merupakan
kondisi kelainan yang langka. Ini disebabkan karena adanya kerusakan progresif
pada sistem saraf otonom (sistem saraf yang mengontrol fungsi otomatis tubuh).
Ciri dari tekanan darah yang rendah ini adalah Anda mengalami ciri-ciri tekanan
darah rendah postural yang parah kombinasi tekanan darah tinggi ketika
Anda berbaring atau tiduran.
BAGAIMANA GEJALA ORANG YANG MENDERITA
HIPOTENSI?
- Pusing
- Mual
- Pingsan
- Rasa haus terus menerus
- Kurang konsentrasi
- Pandangan kabur
- Kulit pucat, keringat dingin
- Lemas
- Tidak bersemangat
- Sesak napas
- Tubuh terasa tidak stabil
APA SAJA YANG MENYEBABKAN SESEORANG MENDERITA
HIPOTENSI?
Tekanan darah dapat
berubah sepanjang waktu, tergantung kondisi dan aktivitas yang dilakukan tiap
orang. Kondisi ini merupakan hal yang normal, karena tekanan darah dipengaruhi oleh
banyak faktor, termasuk pertambahan usia dan keturunan. Tidak hanya pada orang
dewasa, tekanan darah rendah juga bisa terjadi pada anak-anak.
- Kehamilan
Tekanan darah selama masa kehamilan akan menurun seiring berkembangnya sirkulasi darah dalam tubuh ibu hamil. Terutama di 24 minggu awal kehamilan. - Konsumsi
obat-obatan tertentu
Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek menurunnya tekanan darah, di antaranya adalah furosemide, atenolol, propranolol, levodopa, dan sildenafil. - Ketidakseimbangan
hormon
Beberapa penyakit, seperti diabetes dan penyakit tiroid, menyebabkan penurunan kadar hormon dalam darah, dan berdampak pada menurunnya tekanan darah. - Dehidrasi
Ketika kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, volume darah juga dapat berkurang. Kondisi ini dapat memicu penurunan tekanan darah. - Infeksi
Infeksi berat dan menyebar ke darah (shock sepsis). Racun dari kuman dapat menyebar ke darah dan mengakibatkan pelebaran pembuluh darah berujung pada hipotensi yang mengancam nyawa. - Penyakit
jantung
Terganggunya fungsi jantung menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah dengan baik ke seluruh tubuh, sehingga tekanan darah akan menurun. - Kekurangan
nutrisi
Kekurangan vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan anemia dan berakhir pada penurunan tekanan darah. - Perdarahan
Kehilangan darah dalam jumlah besar akibat cedera dapat menurunkan volume dan aliran darah ke berbagai jaringan tubuh, sehingga tekanan darah menurun drastis. - Reaksi
alergi parah
Beberapa pemicu alergi (alergen) dapat menimbulkan reaksi alergi parah (anafilaksis) yang berdampak pada menurunnya tekanan darah.
Selain karena beberapa faktor
penyebab di atas, hipotensi dapat terjadi ketika mengubah posisi dari duduk
atau berbaring ke posisi berdiri. Jenis hipotensi ini dikenal dengan hipotensi
ortostatik atau hipotensi postural.
Hipotensi juga dapat terjadi saat
seseorang berdiri terlalu lama hingga darah menumpuk di bagian tungkai. Kondisi
ini disebut juga neural mediated hypotension (NMH). Sebagian
besar penderita hipotensi jenis ini adalah anak-anak.
APA YANG HARUS DILAKUKAN SAAT KITA MENDERITA
HIPOTENSI?
Jika Anda mengalami
hipotensi yang disertai gejala, tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah
duduk atau berbaring. Posisikan kaki lebih tinggi dari jantung dan pertahankan
posisi tersebut selama beberapa saat. Jika gejala tidak juga mereda, maka perlu
dilakukan penanganan oleh dokter.
Penanganan
hipotensi yang utama adalah perubahan pola makan dan gaya hidup, seperti:
ü Memperbanyak konsumsi makanan dengan kadar
garam tinggi, karena garam dapat meningkatkan tekanan darah.
ü Memperbanyak konsumsi cairan, karena cairan
dapat meningkatkan volume darah dan membantu mencegah dehidrasi.
ü Berolahraga secara teratur untuk meningkatkan
tekanan darah.
ü Menggunakan stoking khusus pada tungkai
(stoking kompresi) untuk memperlancar aliran darah.
Jika hipotensi
disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu, dokter akan mengurangi dosisnya,
atau mengganti jenis obat bila perlu.
Hipotensi yang
disertai gejala syok merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan darurat.
Dokter akan memberikan cairan infus, obat, hingga transfusi darah untuk
meningkatkan tekanan darah, sehingga mencegah kerusakan fungsi organ.
Setelah
menstabilkan tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernapasan pasien,
dokter akan memberikan pengobatan untuk mengatasi penyebabnya. Misalnya,
memberikan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi yang sudah masuk ke dalam
darah.
APAKAH ADA CARA UNTUK MENCEGAH TERJADINYA
HIPOTENSI PADA SESEORANG?
tentu ada hal yang
dapat di lakukan untuk mencegah atau mengurangi gejala hipotensi, yaitu sebagai
berikut:
- Menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari dan membatasi konsumsi alkohol.
- Makan dalam porsi kecil namun sering, dan tidak langsung berdiri setelah makan.
- Memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur (sekitar 15 cm).
- Berdiri secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring.
- Menghindari terlalu lama berdiri atau duduk, dan menghindari duduk bersila.
- Tidak membungkuk atau mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba.
- Menghindari mengangkat beban berat.
Diagnosis Hipotensi
Hipotensi atau
darah rendah dapat diketahui melalui pemeriksaan tekanan darah. Dokter akan
menggunakan alat pengukur tekanan darah atau sfigmomanometer untuk mengukur
tekanan darah.
Jika hasil
pemeriksaan menunjukkan angka yang cukup rendah disertai adanya gejala
tertentu, maka dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi
kemungkinan kondisi atau penyakit tertentu yang menyebabkan hipotensi.
Pemeriksaan yang akan dilakukan dokter meliputi:
Tes darah
Pemeriksaan ini
dilakukan dokter untuk memeriksa kadar gula dan kadar hormon di dalam darah
pasien.
Elektrokardiografi (EKG)
Elektrokardiografi
bertujuan untuk mendeteksi struktur jantung yang tidak normal dan detak jantung
yang tidak beraturan.
Ekokardiogram
Tes ini dilakukan
untuk memeriksa fungsi jantung dan mendeteksi kelainan yang terjadi pada
jantung.
Uji latih jantung (stress test)
Tes ini dilakukan
untuk menilai fungsi jantung saat melakukan aktivitas, dengan cara membuat
jantung bekerja lebih keras, misalnya dengan meminta pasien berjalan atau
berlari di atas treadmill atau memberikan obat tertentu yang meningkatkan kerja
jantung.
Manuver valsalva
Tes ini dilakukan
dengan meminta pasien mengambil napas panjang, kemudian menutup hidung dan
membuang napas melalui mulut. Tes ini bertujuan untuk memeriksa kondisi saraf
dalam sistem pernapasan.
Tilt table test
Tes ini dilakukan
terhadap pasien hipotensi ortostatik untuk melihat perbedaan tekanan darah saat
berbaring dan berdiri. Dalam pemeriksaan ini, pasien akan dibaringkan di atas
meja yang bisa digerakkan ke posisi tegak dan melintang dengan kecepatan
tertentu.
Obat
untuk penderita hipotensi
1. Obat
vasopressin
Obat vasopressin
adalah obat untuk mempersempit pembuluh darah agar menyebabkan peningkatan
tekanan darah. Obat ini biasanya digunakan untuk kasus hipotensi kritis.
Vasopressin dapat
dikombinasikan dengan vasolidator (nitroprusside, nitroglycerin) untuk menjaga
tekanan darah sekaligus meningkatkan kerja otot jantung. Nitroprusside
digunakan untuk mengurangi beban sebelum dan setelahnya dan meningkatkan kerja
jantung. Nitroglycerin secara langsung melemaskan pembuluh darah vena dan
mengurangi beban sebelumnya.
2.
Catecholamine
Catecholamine
termasuk dalam obat adrenalin, noradrenalin, dan dopamin. Obat-obatan ini
bekerja memengaruhi sistem saraf simpatetik dan pusat. Catecholamines juga
berfungsi membuat jantung berdetak lebih cepat dan kuat serta menyempitkan
pembuluh darah sehingga berakibat pada peningkatan tekanan darah.
3. Obat
darah rendah lainnya
Beberapa obat darah
rendah tertentu ditargetkan khusus untuk mengobati kondisi jantung, masalah
pembuluh darah, atau masalah sirkulasi darah yang bisa menyebabkan penurunan
tekanan darah. Obat-obatan ini dapat bekerja dengan cara yang berbedam, dan
satu agen dapat digunakan untuk mengobati beberapa jenis masalah
kardiovaskular.
Beberapa obat dapat
digunakan untuk mengobati kondisi tekanan darah rendah yang terjadi saat
Anda berdiri(hipotensi ortostatik). Misalnya, obat fludrokortison yang
meningkatkan volume darah. Pada kasus hioptensi ortostatik kronis, dokter akan
meresepkan obat midodrine (Orvaten).
MAKANAN- MAKANAN ALAMI YANG DAPAT DI KONSUMSI
OLEH SI HIPOTENSI
1.
Kismis
Kismis dianggap
sebagai obat alami yang sangat baik untuk mengobati hipotensi karena membantu
meningkatkan fungsi kelenjar adrenal.
Rendam sekitar 30 -
40 kismis dalam secangkir air semalaman dan konsumsi makanan ini di pagi hari
pada waktu perut kosong.
2. Susu
almond
Seperti kismis,
almond bisa meningkatkan fungsi kelenjar adrenal untuk mempelancar aliran darah
penderita hipotensi.
Rendam 4 - 5 almond
dalam air semalaman, lepaskan kulit dan blender. Konsumsi susu almond setiap
pagi selama beberapa minggu untuk mengobati tekanan darah rendah Anda.
3. Jus
wortel
Inilah hebatnya
wortel, selain kaya vitamin A, sayuran ini bisa meningkatkan sirkulasi darah dan
mengatur tekanan darah hingga stabil.
Konsumsi jus wortel
ditambah dua sendok makan madu saat perut kosong dua kali sehari (pagi dan
sore) untuk hasil yang lebih baik.
4.
Garam
Kebalikan dari
penderita hipertensi yang harus mengurangi garam, Hipotensi justru membutuhkan
natrium untuk membantu meningkatkan tekanan darah. Namun ingat, konsumsi garam
tetap harus sesuai yang disarankan.
5.
Lemon
Lemon sangat
efektif untuk mengobati tekanan darah rendah. Antioksidan yang ada di dalamnya
bisa berguna untuk mengatur sirkulasi dan menjaga tekanan darah. Jika Anda
merasa kelelahan, minum segelas air perasan lemon dicampur dengan sedikit gula
atau garam untuk mengontrol tekanan darah Anda.
6.
Bawang putih
Bawang putih
mengandung senyawa yang dapat membantu menstabilkan tekanan darah. Konsumsi
bawang putih (2 siung) 1 jam sebelum tidur atau tambahkan pada makanan Anda.
7. Kopi
Minuman yang
mengandung kafein seperti kopi, cola, cokelat panas bisa meningkatkan tingkat
tekanan darah. penyebabnya belum diketahui secara pasti tapi diduga kafein bisa
merangsang pelepasan hormon adrenalin.
SELF
DIAGNOSIS
Self
diagnosis adalah upaya
mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang kita dapatkan secara
mandiri, misalnya dari teman atau keluarga, bahkan pengalaman sakit kita di
masa lalu.
Padahal, diagnosis
hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional. Pasalnya, proses menuju
diagnosis yang tepat sangatlah sulit.
Ketika kita
berkonsultasi, dokter akan menetapkan diagnosis. Diagnosis ditentukan
berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lain yang kita
alami.
Dua orang dokter
bahkan bisa memberikan diagnosis berbeda pada pasien yang sama.Saat
mendiagnosis diri, kita menyimpulkan suatu masalah kesehatan fisik maupun
psikologis dengan berbekal informasi yang kita miliki.
Padahal, tenaga
medis profesional saja perlu mengulik seluk-beluk suatu masalah kesehatan sebelum
menetapkan diagnosis kita. Bahkan mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan
karena dugaan terhadap suatu penyakit tidak bisa disimpulkan begitu saja.
Selain lingkungan
sekitar, kemajuan teknologi turut menyumbang fenomena ini. Misalnya, setelah mendengar
masukan dari teman, kita mencarinya di internet. Sayangnya, sumber yang
dijadikan rujukan justru bukanlah sumber kredibel yang telah diamini oleh
dokter.
Bahkan, sebuah
penelitian pada tahun 2013 bahkan menemukan bahwa di antara orang-orang yang
mencari informasi terkait kondisi kesehatan mereka, hanya setengahnya saja yang
benar-benar berkonsultasi dengan dokter.
Padahal, kita tetap
harus berkunjung ke dokter untuk memastikan apa yang kita alami. Informasi tadi
sebaiknya dijadikan bekal untuk pertanyaan kepada dokter.
Jadi berdasarkan penjelasan diatas kita bisa tau bahwa banyak fakta yang belum kita ketahui tentang Hipotensis seperti penyebab,gejala,perawatannya dan pencegahannya. Serta ada beberapa fakta menarik seputar Hipotesis. Mungkin sampai disini artikel mengenai Hipotensi dan apabila ada salah penulisan kata mohon maaf terimakasih atas perhatiannya
Penyusun
·
Fatia Arta Noviana(13)
·
Nazar Pratama(28)
·
Zahra Ainun Mutmainnah(37)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar