Hi,
Teens!
Sebagai
anak remaja yang banyak melakukan aktivitas tentunya nutrisi dan jumlah energi
yang dikeluarkan harus sebanding, bukan? Let me tell you, semakin berkembangnya
teknologi dan lifestyle, mendorong
para remaja untuk terus berada pada alur tersebut yang mana bisa berpengaruh
juga kepada kesehatan tubuhnya. Kenapa bisa? Dengan situasi hati yang masih labil, tidak sedikit
lho anak remaja yang melakukan diet, tujuannya ingin mendapatkan postur tubuh
yang mereka inginkan, padahal itu bisa menjadi salah faktor pemicu terjadinya
anemia. Dengan melakukan diet secara tidak proposional akan mengakibatkan tubuh
kekurangan nutrisi, padahal pada saat rentang usia remaja (10-19 tahun) adalah
masa pertumbuhan yang mana membutuhkan banyak nutrisi seperti zat besi, asam
folat, vitamin B12, vitamin A, dll.
Poin
utamanya adalah remaja putri, biasanya sebagian besar remaja putri banyak
melakukan diet karena ingin mengikuti idolanya atau karena mereka merasa tidak
percaya diri dengan postur tubuh yang mereka miliki. Selain itu juga, remaja
putri mengalami menstruasi yang mana akan ada zat dalam tubuh yang keluar
ketika menstruasi yang berlangsung kurang lebih selama 10 hari. Hal ini lah
yang menyebabkan kenapa remaja putri lebih dominan mengidap anemia.berdasarkan
riset Kemenkes RI bahwa hampir 23% remaja putri di Indonesia mengalami anemia.
Dengan jumlah remaja putri kurang lebih 21 juta, terdapat setidaknya 4,8 juta
yang mengidap kekurangan sel darah merah (anemia).
SO,
WHAT ANEMIA IS?
Berdasarkan
kasus di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa anemia adalah kondisi ketika
sel-sel darah merah (eritrosit) dan hemoglobin (Hb) yang sehat berada di bawah
rata-rata normal (kurang darah). Nilai normal Hb pada anak remaja putri 12-15
g/dl dan untuk remaja laki-laki yaitu 13-17g/dl. Nah, kira-kira apa itu
hemoglobin? Hemoglobin adalah protein yang membawa oksigen dan juga yang
memberi warna merah pada darah, hemoglobin berada dalam sel darah merah. Nah,
supaya kadar hemoglobin dalam tubuh tetap stabil, asupan makanan yang banyak
mengandung zat besi sangat dibutuhkan oleh tubuh. Mengapa zat besi selalu
terpanggil saat kita berbicara tentang darah? Karena zat besi merupakan mineral
yang mampu melakukan banyak hal dalam tubuh yaitu salah satunya menjaga tubuh
agar tidak mengalami anemia. Sumber makanan yang mempunyai kandungan zat besi
contohnya, hati, bayam, tiram, dll.
JENIS-JENIS
ANEMIA
1. Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia
yang paling sering terjadi. Kondisi ini terjadi karena tubuh kekurangan zat
besi, termasuk pola makan rendah zat besi, kehamilan, perdarahan kronis seperti
akibat luka di saluran cerna atau menstruasi, gangguan penyerapan zat
besi, efek samping obat-obatan, hingga penyakit tertentu, seperti
kanker, radang usus, dan miom.
Kondisi umumnya ditangani dengan konsumsi
suplemen zat besi dan menjalani pola makan tinggi zat besi
2. Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Folat
Tubuh membutuhkan vitamin B12 dan folat
(vitamin B9) untuk membuat sel darah merah baru. Kekurangan salah satu atau
kedua vitamin tersebut bisa menyebabkan anemia defisiensi vitamin B12 dan
folat.
Jenis anemia yang satu ini dapat terjadi
akibat pola makan rendah kandungan kedua vitamin tersebut. Selain itu, anemia
kekurangan vitamin juga bisa terjadi karena tubuh sukar atau gagal mengabsobsi
folat ataupun vitamin B12. Kondisi ini juga disebut anemia pernisiosa.
Penanganan anemia ini umumnya berupa
perubahan pola makan, serta pemberian suplemen vitamin B12 dan asam folat untuk
mencukupi kebutuhan tubuh akan kedua asupan tersebut.
3. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik terjadi saat
kerusakan sel darah merah terjadi lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menggantinya
dengan sel darah sehat yang baru.
Penyebab anemia hemolitik cukup beragam,
mulai dari penyakit keturunan, seperti thalasemia, penyakit
autoimun, infeksi, efek samping obat, hingga gangguan pada katup jantung.
Pengobatan akan disesuaikan dengan tingkat
keparahan dan penyebab terjadinya anemia hemolitik. Penanganan yang diberikan
bisa berupa transfusi darah, operasi, dan pemberian obat-obatan
kortikosteroid yang merupakan obat yang mengandung hormon steroid.
4. Anemia sel sabit
Anemia sel sabit terjadi akibat kelainan
genetik yang membuat sel darah merah berbentuk seperti sabit. Sel- sel ini mati
terlalu cepat sehingga tubuh tidak pernah memiliki sel darah merah yang cukup.
Selain itu, bentuk sel darah abnormal ini
juga membuatnya lebih kaku dan lengket sehingga bisa menghalangi aliran
darah. Pemberian obat dapat dilakukan untuk mencegah kondisi bertambah
parah. Namun, satu-satunya cara mengatasi anemia jenis ini adalah dengan transplantasi
sumsum tulang.
Macam-macam anemia ini ada banyak, dan penyebabnya
bisa sangat beragam pula. Beberapa jenis anemia ini ada yang dapat dicegah,
namun ada pula yang tidak dapat dicegah (anemia yang diturunkan dari orang tua
ke anak).
Jika merasakan gejala-gejala anemia,
apalagi bila terdapat faktor yang membuat Anda berisiko menderita anemia,
sebaiknya periksakanlah diri ke dokter untuk memastikannya. Dokter
juga akan mengidentifikasi jenis anemia yang Anda derita beserta penyebabnya,
dan memberikan penanganan yang tepat.
Nah girls, anemia yang
sering terjadi pada anak remaja adalah anemia jenis Defisiensi besi/ ADB.
PENYEBAB
LAIN DARI ANEMIA :
·
Memiliki
masalah kesehatan dengan sumsum tulang belakang
Sumsum
tulang belakang merupakan jaringan lunak yang berada di bagian tengah tulang
yang membantu pembentukkan semua sel darah. Sel darah merah yang sehat akan
bertahan sekitar 120 hari. Setelah itu, akan terjadi destruksi eritrosit untuk
menggati sel-sel darah merah tua dengan yang baru. Pada tubuh manusia terdapat
hormon yang disebut erythropoietin
(EPO) yang diproduksi di ginjal, berfungsi untuk mengirimkan sinyal kepada
sumsum tulang untuk membuat lebih banyak sel darah bagi tubuh. Jika sumsum
tulang lambat memproduksi sel darah merah, maka seseorang akan mengidap
anemia, karena kadar eritrosit berkurang dan oksigen tidak dapat tersalurkan
dengan baik ke seluruh tubuh yang nantinya akan berdampak kepada yang lainnya.
Hal-hal yang bisa memicu sumsum tulang mengalami perlambatan dalam pembentukan
sel darah merah adalah karena kemoterapi, mengkonsumsi obat-obatan, dll.
·
Kehamilan
(kekurangan zat besi, asam folat)
Anemia pada ibu hamil umumnya terjadi karena asupan
gizi yang kurang, hal ini terjadi karena
ketika hamil volume darah akan bertambah hingga 50% yang nantinya itu akan
digunakan untuk mencukupi keperluan sang ibu hamil dan janin yang sedang
dikandung. Selain itu juga, anemia yang dialami oleh ibu hamil terjadi karena
perubahan hormon tubuh yang mengubah proses produksi sel-sel darah. Beberapa
kondisi kesehatan seperti pendarahan, penyakit ginjal, dan gangguan sistem imun
tubuh juga dapat menyebabkan tubuh kekurangan sel darah merah.
Anemia yang terjadi pada ibu hamil merupakan masalah
yang serius, karena apabila jumlah sel darah merah dalam tubuh ibu hamil
terlalu sedikit, sang ibu dan janin dapat kekurangan gizi dan oksigen yang akan
membahayakan kesehatan mereka.
Anemia parah pada ibu hamil dapat meningkatkan
resiko bayi lambat/gagal berkembang dalam kandungan, lahir prematur, memiliki
berat badan rendah saat lahir hingga skor APGAR yang rendah.Skor APGAR adalah
metode yang dibuat khusus untuk mengetahui kondisi bayi saat baru lahir, nilai
normal dari skor APGAR adalah 7 karena rentang nilai skor APGAR adalah 0-10. Selain
itu, anemia parah pada ibu hamil juga bisa menyebabkan kerusakan organ vital
seperti otak dan jantung, dan bahkan kematian.
Kondisi anemia yang terus berlanjut tanpa
pengobatan, memperbesar risiko ibu kehilangan banyak darah selama melahirkan. Ini
dapat berakibat serius pada keselamatan sang ibu. Kemungkinan besar ibu akan
memerlukan tranfusi darah selama persalinan atau mengalami depresi pasca
persalinan.
· Kehilangan
banyak darah saat menstruasi
Menstruasi yang lama dapat menyebabkan kadar zat
besi dalam tubuh menjadi rendah, harus selalu diingat bahwa kekurangan zat besi
dalam tubuh dapat menyebabkan pasokan sel darah merah (eritrosit) ikut turun.
Apabila jumlah darah yang hilang lebih banyak dari kemampuan tubuh memproduksi
sel darah merah, maka kita akan terkena anemia.
· Melakukan
diet vegan
· Ketidakcukupan asupan makanan kaya zat besi
atau makanan sumber vitamin C
· Melakukan
diet yang membatasi asupan kalori
· Sering
melewatkan waktu makan
· Suka melakukan
olahraga yang berat
Pada tujuan dasarnya, melakukan olahraga adalah
suatu kegiatan untuk meningkatkan kekuatan fisik dan kebugaran tubuh, namun
jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan akan berdampak pada kesehatan
tubuh kita sendiri. Ada dua mekanisme yang dapat menjelaskan bagaimana anemia
setelah olahraga bisa terjadi. Salah satunya adalah kondisi anemia disebabkan
oleh hemolysis atau proses pemecehan sel darah merah akibat tekanan mekanik.
Terlepas dari itu, tingginya tingkat kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan
saat olah tubuh juga menjadi salah satu
faktor. Nah kembali lagi dengan zat besi, nutrisi ini sangat dibutuhkan karena
seseorang yang rutin berolah raga memiliki masa sel darah merah yang lebih
besar maka dalam pembentukannya pun tentunya diperlukan lebih banyak zat besi,
ditambah lagi apabila sedang dalam masa pertumbuhan.
DAMPAK
ANEMIA PADA REMAJA
Dampak dari anemia bisa
saja tidak langsung terlihat, tetapi dapat berlangsung lama dan mempengaruhi
kehidupan sehari-hari remaja itu sendiri. Apalagi pada perempuan, yang mana
bisa ikut berpengaruh juga saat dia mengalami fase kehamilan kelak.
1.
Terganggunya
pertumbuhan dan perkembangan
2.
Kelelahan
3.
Meningkatkan
potensi terkena infeksi karena sistem kekebalan tubuh yang menurun
4.
Terganggunya
fungsi kognitif
Fungsi kognitif adalah kemampuan untuk berpikir optimal. Tidak hanya dibutuhkan oleh
individu yang berusia muda, tetapi sepanjang usia.
5.
Sakit kepala dan pusing
6.
Kulit terlihat pucat atau kekuningan
7.
Detak jantung tidak teratur
CARA
PENCEGAHAN ANEMIA
Asupan makanan mengandung zat
besi
Pastikan asupan zat besi terpenuhi dari makanan. Konsumsi makanan yang mengandung zat besi dapat membantu mencegah anemia. Makanan ini misalnya, daging dan kerang. Teman-teman dapat memilih daging merah seperti hati sapi serta keluarga kerang-kerangan seperti kerang hijau atau udang. Selain daging dan kerang, sumber zat besi lain juga dapat diperoleh dari kacang-kacangan, sayuran hijau.
Pastikan asupan zat besi terpenuhi dari makanan. Konsumsi makanan yang mengandung zat besi dapat membantu mencegah anemia. Makanan ini misalnya, daging dan kerang. Teman-teman dapat memilih daging merah seperti hati sapi serta keluarga kerang-kerangan seperti kerang hijau atau udang. Selain daging dan kerang, sumber zat besi lain juga dapat diperoleh dari kacang-kacangan, sayuran hijau.
Tingkatkan asupan vitamin C dan
folat
Asupan makanan yang mengandung zat besi harus didukung dengan asupan vitamin C dan folat. Keduanya membantu tubuh untuk memaksimalkan penyerapan zat besi. Vitamin C bisa diperoleh dari bahan pangan, seperti paprika, brokoli, jeruk, stroberi, nanas dan bayam. Sedangkan folat bisa diperoleh dari bahan pangan yang sama termasuk jeruk dan sayuran hijau. Folat juga dapat ditemukan pada pisang dan sereal.
Konsumsi makanan mengandung vitamin B12
Langkah pencegahan anemia dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B12. Tidak hanya mencegah anemia, vitamin B12 juga berfungsi untuk memaksimalkan penyerapan zat besi seperti halnya vitamin C dan folat.
Teman-teman dapat mengonsumsi beberapa sumber pangan yang mengandung vitamin B12 antara lain, ikan seperti salmon dan tuna, kerang-kerangan, telur, produk susu seperti keju dan yogurt, dan produk kedelai misalnya susu kedelai, edamame dan tahu.
Asupan makanan yang mengandung zat besi harus didukung dengan asupan vitamin C dan folat. Keduanya membantu tubuh untuk memaksimalkan penyerapan zat besi. Vitamin C bisa diperoleh dari bahan pangan, seperti paprika, brokoli, jeruk, stroberi, nanas dan bayam. Sedangkan folat bisa diperoleh dari bahan pangan yang sama termasuk jeruk dan sayuran hijau. Folat juga dapat ditemukan pada pisang dan sereal.
Konsumsi makanan mengandung vitamin B12
Langkah pencegahan anemia dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B12. Tidak hanya mencegah anemia, vitamin B12 juga berfungsi untuk memaksimalkan penyerapan zat besi seperti halnya vitamin C dan folat.
Teman-teman dapat mengonsumsi beberapa sumber pangan yang mengandung vitamin B12 antara lain, ikan seperti salmon dan tuna, kerang-kerangan, telur, produk susu seperti keju dan yogurt, dan produk kedelai misalnya susu kedelai, edamame dan tahu.
Ayo mulai sekarang, terapkan pola hidup sehat dengan makan
makanan yang sehat secara teratur dan berolahraga secara tidak berlebihan,
cukupi nutrisi di dalam tubuh kalian karena pada saat remaja adalah masa
pertumbuhan dan perkembangan yang mana sangat membutuhkan banyak nutrisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar